Lima PAC PDIP Kota Probolinggo Dilantik, Wajib Miliki Media Sosial

Lima PAC PDIP Kota Probolinggo Dilantik, Wajib Miliki Media Sosial
Sekretaris PDI Perjuangan Jawa Timur Deni Wicaksono melantik Pengurus PAC PDI Perjuangan Kota Probolinggo.(hud)

MEMOX. CO.ID – Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Deni Wicaksono, menegaskan seluruh Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan wajib memiliki akun media sosial (medsos) sebagai bagian dari strategi penguatan komunikasi politik partai menuju Pemilu 2029.

Penguatan media sosial menjadi kebutuhan penting karena mayoritas pemilih pada Pemilu 2029 diperkirakan berasal dari kalangan generasi milenial dan Gen Z.

Pernyataan itu saat melantik PAC PDI Perjuangan se-Kota Probolinggo, di Hall AKAS Mila Sejahtera, Sabtu (24/05/2026) malam.

“Seluruh pengurus PAC wajib hukumnya punya medsos. SK Kepengurusan belum bisa diberikan. Jadi kalau nanti tidak bisa, bisa kemudian dibantu dibuatkan atau sekretariat untuk membuat medsos,” tegasnya.

Partai harus mulai serius membangun komunikasi dengan generasi muda sejak sekarang agar tidak tertinggal dalam persaingan politik mendatang. Bahkan, mengingatkan bahwa pelajar yang saat ini masih duduk di bangku SMP akan menjadi pemilih aktif pada Pemilu 2029.

“Kalau membayangkan hari ini anak kelas 3 SMP, besok tahun 2029 sudah bisa nyoblos. Kalau kemudian tidak mulai masuk ke sana, PDI Perjuangan, juga pasti akan tertinggal,” ucap Deni Wicaksono.

Lebih jauh, Deni Wicaksono meminta kader muda mulai aktif membangun kreativitas dan inovasi, terutama dalam pemanfaatan media sosial. Sebab, ruang digital kini menjadi salah satu arena utama pertarungan gagasan politik.

“Anak-anak muda khususnya harus punya kreativitas, inovasi, agar partai bisa lebih diterima. Khususnya pemahaman dan pengoperasian media sosial, ini yang menjadi catatan,”tuturnya.

Di sisi lain, pengurus PAC minimal memiliki akun di tiga platform media sosial utama, yakni Instagram, Facebook, dan TikTok. Sehingga memastikan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur akan membantu menyediakan konten yang nantinya dapat dibagikan ulang oleh kader di daerah.

“Kalau bingung nanti mau bikin konten apa, tinggal me-repost konten yang akan dibuat oleh DPD partai. Pasti akan membuat konten,” jelas Deni Wicaksono.

Lebih lanjut, Deni Wicaksono menyebut langkah tersebut dilakukan agar gaung PDI Perjuangan tidak hanya kuat di lapangan, tetapi juga terdengar di ruang digital. Sehingga kemudian gaungnya tidak hanya di level lapangan, level darat, tapi di udara, di dunia maya juga bisa didengar oleh masyarakat luas.

Terlebih lagi, pentingnya regenerasi di tubuh partai. Reorganisasi dan restrukturisasi kepengurusan menjadi langkah strategis agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman.

“Reorganisasi, restrukturisasi, regenerasi di partai harus berjalan. Arahan dari DPD partai untuk keterlibatan anak muda di kepengurusan partai ini harus dilakukan,”pintanya.

Memilih Berdasarkan Kredibilitas

Bukan semata-mata karena faktor uang, generasi muda saat ini mulai menentukan pilihan politik berdasarkan kredibilitas calon maupun partai politik.

Kondisi tersebut menjadi peluang besar untuk membangun politik yang lebih sehat dan substantif menjelang Pemilu 2029.

“Kalau 58 persen pemilih besok adalah anak muda, maka memilih tidak hanya karena urusan duit sebagai penentu, tetapi juga kredibilitas diperhatikan. Ruang itu yang harus dirangkul,” tegas Deni Wicaksono.

Lebih jauh, Deni Wicaksono menyebut meningkatnya pragmatisme masyarakat dalam setiap momentum politik. Namun, ia meminta seluruh kader partai tidak gentar menghadapi kondisi tersebut dan tetap memperjuangkan politik berbasis gagasan serta keberpihakan kepada rakyat.

“Pragmatisme rakyat dalam event politik memang naik. Karena itu tidak boleh gentar. Harus bertekad menjungkirbalikkan politik uang menjadi politik perjuangan,”sebutnya.

Faktanya, dominasi pemilih muda pada Pemilu 2029 menjadi tantangan sekaligus peluang bagi partai politik. Proyeksi internal partai, sekitar 58 persen pemilih pada pemilu mendatang berasal dari kalangan generasi muda.

“DPD PDI Perjuangan Jawa Timur terus membuka ruang kreatif dan komunitas yang lebih dekat dengan gaya hidup anak muda,”terang Deni Wicaksono.

Begitu juga, Deni Wicaksono menyebut beberapa program harus menjadi sarana untuk menjangkau komunitas di luar lingkaran partai politik. Selain, partai menyediakan berbagai ruang untuk anak muda, untuk merangkul komunitas di luar partai politik.

Partai memilih pendekatan yang lebih inklusif melalui kegiatan sosial, olahraga, komunitas, hingga ruang kreatif yang lebih cair dan dekat dengan keseharian anak muda. Apalagi mengajak anak muda langsung berbicara politik dan pemerintahan, itu akan menjadi berat.

“Kader muda yang bergabung dengan PDI Perjuangan diberi ruang untuk berkarya dan berekspresi sesuai minat masing-masing,”sebutnya.

Lain halnya, partai juga menyediakan berbagai wadah organisasi sayap untuk mengembangkan kreativitas generasi muda. Mereka bebas melakukan karya apa pun. Bisa berkreasi melalui organisasi sayap, seperti Repdem, TMP, atau BMI.

“Kita mengakui pendekatan politik secara formal kerap sulit diterima generasi muda,”kata Deni Wicaksono.

Munculkan Kreator-Kreator Muda

Generasi muda, memiliki peluang besar memanfaatkan media sosial sebagai ruang menyampaikan gagasan, kritik, maupun edukasi politik kepada masyarakat.

“Banyak ruang dan celah kritik program dari pemerintah yang bisa kita sampaikan, baik perencanaan maupun pelaksanaannya. Ini akan bisa meraih simpati,”tutur Deni Wicaksono.

Konten media sosial, lanjut Deni Wicaksono, yang membahas persoalan nasional maupun pelaksanaan program pemerintah saat ini mendapat perhatian besar dari publik, khususnya kalangan netizen dan pemilih muda.

Sehingga akan mendorong munculnya kreator-kreator muda yang mampu mengemas kritik maupun edukasi politik secara kreatif dan mudah diterima masyarakat.

“Kalau muncul konten-konten kreator muda untuk membedah, menyampaikan program pemerintah pusat, pemerintah provinsi, kota atau kabupaten yang kemudian bisa menarik simpati masyarakat, ini mungkin akan dikenal,”pintanya.

Terlebih lagi, pendekatan digital menjadi penting karena pola perilaku pemilih terus berubah, terutama di kalangan generasi milenial dan Gen Z yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui medsos.

Selain aktif di media sosial, harus mengajak generasi muda membangun jejaring sesama anak muda serta aktif menyampaikan gagasan perubahan di tengah masyarakat.

Keterlibatan anak muda dalam politik tidak cukup hanya hadir sebagai pemilih, tetapi juga harus berani menjadi penggerak ide dan opini publik.

“Siapa tahu dengan kawan-kawan muda bergerak, mengumpulkan anak muda, menyampaikan ide-idenya, gagasannya, sesama anak muda kita saling support, bisa diingat masyarakat,”urai Deni Wicaksono.

Kreativitas dan konsistensi di ruang digital, lanjut Deni Wicaksono, dapat menjadi modal penting dalam membangun elektabilitas politik ke depan. Sehingga nantinya apabila menjadi calon legislatif bisa terpilih. Hal ini erlu dipadukan dengan pola perjuangan kader senior yang selama ini telah berjalan di tingkat akar rumput.

“Kombinasi pengalaman kader lama dan energi baru anak muda akan memperkuat basis suara PDI Perjuangan. Yang muda-muda harus mulai melakukan kreativitas itu, sehingga suara yang diperjuangkan kemarin bisa bertahan dengan gerakan lama yang dilakukan senior-senior partai,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Probolinggo, Tomy Wahyu Prakoso, mengatakan proses penjaringan dan konsolidasi PAC telah dilakukan sesuai mekanisme partai di lima kecamatan, yakni Mayangan, Kanigaran, Wonoasih, Kedopok, dan Kademangan.

Pelantikan tersebut diharapkan menjadi momentum memperkuat tanggung jawab ideologis kader terhadap rakyat dan partai.

“PAC adalah ujung tombaknya PDI Perjuangan menuju Kabupaten Pacitan. Saya berharap kekompakan dan kebersamaan nanti akan berhasil menyukseskan PDI Perjuangan di tahun-tahun yang akan datang,”pungkasnya.(hud/syn)