Kisah Driver Ojek Online, Tidak Ada yang Tidak Mungkin Ketika Allah Berkehendak

Malang, Memox.co.id – Erya Rosayanti (32) warga Blimbing Kota Malang, seorang ibu dengan 2 orang putri. Rara si sulung berumur 6 tahun dan Riri adiknya 4 tahun. Suaminya sudah berpulang setahun yang lalu. Mempunyai kisah yang mengharukan dalam menjalani kehidupan ketika menjadi driver ojek online (ojol) seperti apakah?…

Berbekal motor dan handphone bekas peninggalan suaminya, ia memilih menjadi pengemudi ojek online untuk menghidupi kedua anaknya. Ia hanya menunggu pesanan datang di rumah karena tidak bisa meninggalkan kedua anaknya sendirian. Bila ada pesanan datang, baru mau tak mau ia meninggalkan mereka sebentar dan secepatnya kembali lagi. Mungkin karena itu pendapatannya sepi.

Ia menceritakan, hari sudah beranjak malam, waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB. Seharian ini baru satu pesanan yang datang, itupun membayar dengan uang virtual. Saldo uang virtual tidak mencapai angka minimal, jadi tidak bisa ditarik di gerai Anjungan Tunai Mandiri atau ATM. Sedangkan uang yang dipegang hanya tinggal selembar uang sepuluh ribuan.

Bensin sudah hampir habis, kedua anaknya baru makan sepotong roti seharga dua ribu semenjak pagi, itupun dibagi dua. Ia memutar otak, mencari cara agar uang ini bisa cukup sampai esok hari. Bila uang ini dibelikan sebungkus nasi untuk anak-anak makan nanti, besok pasti tidak bisa menerima tarikan lagi.

“Dimana Engkau saat aku membutuhkan-Mu ya Allah,” kata dia kala itu. Tak sampai semenit kemudian HPnya bergetar, pertanda masuk orderan. Ternyata yang masuk order makanan,  “Alhamdulillah,” pekiknya.

Bergegas ia menuju motor yang terparkir di depan rumah mungilnya, dan berpamitan pada kedua putrinya.

Setelah itu, ia segera mengirim pesan pada pelanggannya. “Malam mbak, pesanannya sesuai aplikasi ya?,” sapa ibu muda ini.

“Malam bu. Ia sesuai aplikasi ya,” jawab si pelanggan.

“Baik, mohon ditunggu,” balas ibu yang berstatus janda ini menjelaskan.

Ia segera memacu sepeda motor ke warung bensin terdekat. Dan menyerahkan lembaran uang terakhirnya. “Kalau orderan ini selesai, aku bisa menarik uangku di ATM dan membeli makanan kesukaan Rara dan Riri,” gumamnya.

Selanjutnya HP dibaca lagi untuk memastikan orderan tidak dibatalkan.

“Bu, minta tolong nanti pesananku tidak usah diantar ke rumah ya, titip untuk anak-anak ibu. Terimakasih,” begitu isi chatnya.

Tertegun, ia baca berulang kali chat yang pelanggan barusan kirimkan. Segera dibalas chatnya dengan untaian doa dan ribuan ucapan terimakasih. Ya, Allah menjawab doaku.

Selanjutnya, ini cerita driver ojol ini dengan gaya bertutur. 

Kupacu sepeda motor ke resto yang GPS tunjukkan padaku. Sepanjang jalan tak henti-hentinya kuucapkan Alhamdullilah. Tak sampai 5 menit kemudian aku sampai di tempat tujuan, gelap. Restonya sudah tutup. Bagaimana ini, pikirku. Segera ku chat pelangganku tadi.

“Mbak, maaf. Ini saya sudah di depan restonya. Kok sudah tutup ya mbak? Kalau di aplikasinya bagaimana mbak?,”

“Loh, di aplikasi masih buka bu restonya,”

“Sebentar mbak, ini saya di depan restonya. Saya fotoin ya mbak,” segera kuarahkan kamera HPku dan mengambil foto lalu mengirimkannya pada pelangganku.

“Yaah, kok udah tutup ya bu. Harusnya kalau sudah tutup nggak bisa order sayanya. Gimana ya bu?,”

“Ia mbak, sudah tutup. Apa mau ganti resto aja mbak?,” tawarku.

“Kalau ganti resto gimana caranya bu? Kalau yang ini saya cancel kan berarti belum tentu ibu yang dapat orderan saya nanti,”

“Ya udah, nggak papa mbak. Mungkin belum rejeki saya,” jawabku sambil meremas ujung jaketku saat membalas chatnya.

“Yaah.. maaf banget ya bu kalau begitu. Maaf banget, saya cancel ya berarti,”

“Ia mbak nggak papa,” kuakhiri chat dengan pelangganku.

Ting!

Pemberitahuan pembatalan pesanan pun masuk ke HPku. Aku berjongkok memeluk lututku, menangis tanpa suara, sedih dan pilu rasanya. Tanpa sepeser uang dan sedikit saja makanan “Ya Allah, sampai batas mana lagi hamba harus bersabar. Untuk Rara dan Riri makan saja ya Allah, buat makan mereka saja,” ratapku.

Hampir lima menit lamanya

Hampir lima menit lamanya aku menangis. Tak henti-hentinya hati ini memberontak pada-Nya.

Ting!

Kembali HPku berbunyi, tanda ada pemberitahuan yang masuk. Aku sudah pasrah. Bila yang masuk adalah orderan makanan akan langsung aku batalkan karena aku tidak punya cukup uang untuk membeli. Semoga saja yang datang pesanan antar jemput penumpang, batinku.

Ku tatap layar HPku, dan tak percaya apa yang aku baca.

“Pelanggan 08153455**, melakukan pembayaran sebesar Rp. 100.000,- melalui G*pay,”

Ini kan no pelanggan yang membatalkan pesanannya tadi, pekikku. Segera kukirim pesan pribadi melalui sms padanya,

“Malam mbak, sepertinya mbak salah transfer dana ke HP saya ya mbak?,”

“Nggak kok Bu, itu buat ganti yang tadi Bu. Titip buat makan malam Ibu dan anak-anak Ibu ya,”

“Beneran Mbak?,”

“Bener kok bu, masa saya bohong,”

“Terimakasih banyak yang mbak, terimakasih banyak. Biar makin banyak rejekinya buat mbak dan keluarga mbak ya,”

“Amin. Doa yang sama ya bu buat ibu dan keluarga.”

Aku masih terpaku dengan sms yang baru saja aku baca, rasanya benar-benar nggak bisa dipercaya. Dalam waktu tidak sampai 1 jam Allah menaikturunkan emosiku dan menjawab semua doa dan kegelisahanku.

“Ya Allah, ampuni hamba yang meragukan-Mu. Hamba benar-benar malu sudah berburuk sangka pada-Mu. Maha besar Engkau dengan seluruh kemurahan-Mu yang selalu mendengar dan menjawab doa-doaku,” Kuucapkan doa itu berulang-ulang sepanjang perjalanan pulang. Tak lupa kubawakan sebungkus makanan kesukaan Rara dan Riri. Aku pulang.

Pesannya, Tuhan tidak pernah memberikan ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Pastinya,  Allah maha mengetahui. (jun)