Hukum  

Kasus Korupsi PKH Tumpang Dituntut 5 Tahun dengan Denda Rp425 Juta

SIDANG: Terdakwa Ariesca Swasanti Prihantari pendamping bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Tumpang menjalani sidang

MEMOX.CO.ID – Ariesca Swasanti Prihantari pendamping bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) di Kecamatan Tumpang menjalani sidang tuntutan atas kasus rasuah yang menjeratnya. Ia dituntut dengan hukuman 5 tahun penjara dengan denda 200 juta di Pengadilan Tipikor Surabaya, Rabu (15/11/2023) siang.

Kasubsi Penuntutan Kejari Kabupaten Malang Fikri Fawaid mengatakan, jika terdakwa tidak mampu membayar, maka akan dipidana 3 bulan. Kemudian diminta untuk mengembalikan uang ganti rugi senilai Rp425 juta.

“Jika tidak bisa, maka akan diganti dengan kurangan 2,6 tahun,” ujarnya.

Fikri Fawaid menambahkan, alasan terdakwa dituntut 5 tahun penjara lantaran terbukti bersalah mencuri uang PKH dan BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai) di Kecamatan Tumpang. Uang yang seharusnya disalurkan kepada keluarga penerima manfaat (KPM), justru dimakan sendiri.

Di sisilain, Fikri Fawaid menambahkan, pertimbangan meringankan lantaran terdakwa (Ariesca) didalam persidangan berprilaku sopan. Kemudian belum pernah terpidana dan berprilaku kooperatif. Maka, atas dasar inilah, terdakwa dijerat dengan hukuman 5 tahun.

“Pertimbangan menguatkan, saksi menyebut tidak memberikan uang PKH maupun BPNT. Sehingga kerugian negara mencapai Rp425 juta,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Rabu (18/10/2023) lalu, terdakwa Ariesca Swasanti Prihantari mulai mejalani siding pertama di Pengadilan Tipikor Surabaya. Di dalam siding itu, terdakwa tidak didampingi penasehat hukum pribadinya. Hanya penasehat hukum yang ditunjuk oleh hakim.

Kemudian kasus itu mencuat sejak awal Februari 2023 lalu. Kemudian tim inspektorat melakukan audit jumlah nominal penyelewengannya. Sehingga dalam perjalannya, kerugian negara ditaksir mencapai Rp425,6 juta.

“Dari kasus ini terakhir dipastikan kerugian mencapai Rp425,6 juta,” ujarnya. (nif).