MEMOX.CO.ID – Persik Kediri melawan Arema FC dalam pertandingan yang digelar di Stadion Kanjuruhan pada 11 Mei 2025 di Malang, Jawa Timur. Laga ini menjadi sorotan bukan hanya karena rivalitas kedua tim, tetapi juga karena stadion tersebut pernah menjadi lokasi tragedi kelam pada 1 Oktober 2022. Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi dunia sepak bola Indonesia, sehingga kembalinya laga ke Kanjuruhan disambut masyarakat dengan perasaan campur aduk antara semangat mendukung tim kesayangan dan trauma akan kejadian masa lalu.
Tiga tahun lalu, tragedi Kanjuruhan merenggut lebih dari 130 nyawa setelah pertandingan Arema FC vs Persebaya. Kepanikan massal terjadi ketika gas air mata ditembakkan ke tribun penonton, memicu kekacauan dan desak-desakan di pintu keluar yang sempit. Peristiwa itu menjadi luka kolektif sepak bola Indonesia dan mencuatkan pertanyaan besar tentang keamanan stadion dan tanggung jawab berbagai pihak.
Namun, yang menarik adalah sikap Presiden Joko Widodo pascatragedi. Alih-alih secara langsung menyalahkan aparat kepolisian atau penggunaan gas air mata, Jokowi justru menyoroti aspek infrastruktur stadion. Ia menekankan bahwa desain tangga dan pintu keluar di Stadion Kanjuruhan sangat curam dan tidak memenuhi standar keselamatan. Baginya, masalah utama bukan hanya pada tindakan di lapangan, tetapi pada sistem pendukung yang membahayakan penonton.
Presiden Jokowi kemudian memilih pendekatan solutif: memerintahkan renovasi total stadion dengan pendekatan keselamatan penonton sebagai prioritas. Bukan pembalasan atau penindakan semata, tapi perbaikan jangka panjang yang diharapkan mencegah tragedi serupa terulang. Sikap ini menuai pro dan kontra, namun menandai langkah baru dalam membenahi sepak bola nasional dari aspek infrastruktur.
Kini, saat pertandingan Persik Kediri melawan Arema kembali digelar di Kanjuruhan yang telah direnovasi, publik tidak hanya menyoroti skor akhir, tetapi juga kesiapan stadion dalam menjamin keselamatan. Apakah luka lama sudah benar-benar sembuh, atau hanya tertutup renovasi fisik? Yang jelas, sejarah mencatat bahwa tragedi itu mengubah arah pembangunan stadion di Indonesia bukan dengan tudingan, tapi dengan pembangunan. (Ume)






