Kampoeng Heritage Kajoetangan sendiri mulai dibuka 2018 lalu. Di situ, pengunjung akan dimanjakan dengan bangunan khas peninggalan kolonial Belanda. Maka jangan heran jika datang ke tempat tersebut serasa berada di negara Kincir Angin.
Namun jangan khawatir, jika berkunjung ke Kampoeng Heritage Kajoetangan tidak menemukan aktivitas masyarakat. Karena kampung tersebut memang masih dihuni oleh masyarakat dan juga dikelola baik oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Sehingga, aktivitas kehidupan sehari-hari yang dipadukan dengan ekosistem wisata juga sangat nampak pada kawasan tersebut.
Menariknya, Kampoeng Kajoetangan Heritage memiliki sungai di tengah kampungnya. Setelah dilihat memiliki potensi, akhirnya Pemkot Malang memiliki inisiasi untuk membangun jembatan-jembatan penghubung dan ornamen tepi sungai khas Eropa. Tak ayal, jika saat ini sungai di Kampoeng Kajoetangan Heritage terlihat sangat bersih nan indah jika dipandang.
Nama Kajoetangan kemudian terus mengemuka seiring Pemkot Malang yang melakukan penanganan terhadap koridor Kayutangan menjadi pusat destinasi wisata di Kota Malang. Hal itu mengembalikan kejayaan Kayutangan di era 80-an, di mana saat itu Kayutangan menjadi jujukan masyarakat ataupun wisatawan.
Sejalan dengan hal itu, Kampoeng Kajoetangan Heritage kemudian menjadi viral di media sosial. Hilir mudik pengunjung kemudian terus berdatangan karena masyarakat Kota Malang sendiri dan wisatawan penasaran dengan Kampoeng Kajoetangan Heritage.
Viralnya Kampoeng Kajoetangan Heritage juga dilirik oleh pembuat film Yowis Ben yang dibintangi oleh Bayu Skak. Di situ, film Yowis Ben diproduksi kurang lebih selama 14 hari. Selain itu, beberapa film dokumenter juga diproduksi di Kampoeng Kajoetangan Heritage.
Secara ekonomi, Kampoeng Kajoetangan Heritage juga membuat perekonomian warga sekitarnya juga meningkat. Betapa tidak, warga Kampoeng Kajoetangan Heritage juga banyak yang membuka warung makanan hingga tempat nongkrong. Perputaran uang di Kampoeng Kajoetangan Heritage pun terus berjalan.






