MEMOX.CO.ID — Sebuah terobosan baru lahir dari Desa Tanah Wulan, Kecamatan Maesan, Bondowoso. Ciptono, salah satu pelaku usaha kopi lokal berhasil memanfaatkan limbah kulit kopi yang selama ini kurang bernilai menjadi produk pakan sapi bernilai ekonomi tinggi.
Melalui proses fermentasi dan pengolahan sederhana, limbah yang sebelumnya kerap terbuang kini berubah menjadi komoditas yang dibutuhkan oleh para peternak. Inovasi ini tidak hanya memberikan solusi atas permasalahan limbah pertanian, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang menjanjikan.
Pakan fermentasi berbahan dasar kulit kopi tersebut memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi ternak, sekaligus menawarkan harga yang terjangkau dibandingkan pakan komersial lainnya. Hasilnya, permintaan pasar terus meningkat dan memberikan omzet yang signifikan bagi Ciptono.
“Kami ingin membuktikan bahwa limbah pun bisa bernilai. Dengan pengolahan yang tepat, kulit kopi dapat menjadi sumber pakan alternatif yang tidak hanya bermanfaat bagi peternak, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat,” ujar Ciptono dikonfirmasi Jumat (21/11/2025).
Langkah inovatif ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain untuk memanfaatkan potensi lokal secara kreatif dan berkelanjutan. Pemerintah desa dan sejumlah kelompok tani ternak turut memberikan apresiasi atas terobosan tersebut, yang dinilai selaras dengan upaya peningkatan ekonomi berbasis pemberdayaan masyarakat.
Menurut Ciptono Inovasi ini bermula dari proses pengupasan kopi menggunakan mesin pullper. Limbah kulit kopi kemudian diperhalus menggunakan mesin Hammer Mill hingga menghasilkan tekstur yang sesuai untuk dijadikan bahan pakan. Setelah itu, bahan dicampur dengan tepung udang dan tepung pelengket, sehingga tercipta pakan sapi fermentasi berbentuk pelet dengan kualitas gizi yang lebih baik.
“Kulit kopi ini akan saya kirim ke Tasikmalaya, Pasuruan, dan Probolinggo. Harga bahan mentahnya sebelum difermentasi hanya Rp800 – Rp1.000 per kilogram,” imbuhnya.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Bondowoso dapat memberikan perhatian dan dukungan, terutama berupa bantuan peralatan seperti Hammer Mill. Dengan adanya alat tersebut, dapat memproses sendiri bahan baku dalam jumlah besar dan menjual hasil olahan pakan sapi dalam bentuk pelet siap jual.
“Ada sekitar 200 ton lebih kulit kopi yang bisa saya olah. Dengan bantuan alat, saya tidak perlu lagi menjual bahan mentahnya,” harapnya.
Dengan permintaan yang terus meningkat, ia menegaskan potensi besar pengembangan usaha ini. Pakan sapi dari limbah kulit kopi memiliki sejumlah manfaat, di antaranya menjadi sumber serat yang baik untuk pencernaan, menyediakan energi dari karbohidrat, serta mengandung mineral penting seperti kalsium dan fosfor.
Selain itu, limbah kopi juga diketahui memiliki potensi antioksidan yang dapat mendukung kesehatan dan produktivitas ternak jika diolah dengan benar. Dari sisi ekonomi, inovasi ini mampu menekan biaya pakan dan meningkatkan pendapatan petani melalui diversifikasi produk turunan kopi.
“Jadi saya mengirim limbah kopi ini, setiap tahun sekali berkisar antara 200 -500 ton, dan saya juga sudah 10 tahun melakukan usaha ini,” pungkasnya.
Inovasi yang dilakukan oleh ini diharapkan dapat menjadi contoh pemanfaatan limbah pertanian secara kreatif, sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan industri pakan ternak lokal di Bondowoso.(rif/syn)






