Harga Cabai Kabupaten Malang Tembus 90 Ribu

38
0
Foto : Pasar Subuh Sumberpucung (rul)

Malang, Memox.co.id – Melonjaknya harga komoditi cabai hingga satu bulan terakhir tidak terkendali dipuncak musim penghujan, pasalnya dapam kurun satu bulan sayuran pedas ini terus memanjat hingga mencapai Rp 90 ribu perkilogram. Tercatat pada akhir Januari lalu harga cabai masih berada diangka Rp 75 ribu dipasaran akibat dari banyaknya sentra cabai di Kabupaten Malang mengalami gagal panen.

“Sempat turun sampai Rp 45 ribu perkilo seminggu lalu. Namun ini malah naik menjadi Rp. 87 ribu perkilo harga dari petani sehingga kami jual Rp 90 ribu perkilonya,” ujar Lastri salah satu pedagang sayuran di Pasar subuh Sumberpucung pada Minggu kemarin (21/2). Lastri juga menekankan dirinya yang biasanya memiliki stok 5 sampai 7 kwintal perharinya harus menurunkan barang yang masuk hingga mencapai 2 kwintal saja.

Kepada MemoX ia juga mengaku bahwa jika sebelumnya ia mendapatkan supply dari Desa Ngadas Kecamatan Ngantang saja, kini ia harus mencari tempat tangkulak lain untuk memenuhi kebutuhan pasar. Lastri menguraikan dirinya mendapat supply cabai lain dari kawasan Jabung dengan resiko harga yang juga naik bila dibandingkan dengan tangkulak langganan miliknya. “Kalau di Ngadas saya dapat Rp 87 perkilogram. Di Jabung ini saya harus beli Rp. 88.500 perkilogram karena cabai memang sedikit sekali panennya.

Sementara itu, Bambang Yudhana supplier Lastri yang merupakan petani cabai di Desa Ngadas Kecamatan Poncokusumo mengaku semakin tinggi curah hujan membuat hasil pertanian cabai miliknya semakin hancur. Ia menerangkan bahwa dirinya bahkan mengalami gagal panen sebanyak 1,5 hektar dari lahan miliknya.

“Dari dua hektar, yang berhasil dipanen hanya setengah hektar. Tentu kami merugi karena biaya perawatan tidak sebanding dengan penjualannya,” katanya. Ia bahkan harus menyemprotkan cairan pestisida sebanyak 3 kali dimusim penghujan karena jika disemprot satu kali maka dipastikan cairan tidak akan meresap sempurna bahkan cenderung hilang diguyur air hujan.

Baca Juga : Kapolresta Malang Kota: Ada Unsur Pidana, Kami Tindak Tegas

Ditanya untuk melakukan instruksi Pemkab untuk memberikan tutup di lahan pertanian cabai miliknya, Bambang mengaku sengaja tidak melakukan hal tersebut karena menurutnya tidak memberikan efek yang signifikan. “Teman saya ada yang seperti itu, namun air tetap menumpuk di tanah dan membuat tanaman cepat busuk karena tanah yang terlalu gembur. Apalagi batang tanaman cabai juga rentan jatuh jika tertiup angin akibat dari tanah yang terlalu gembur itu,” tandasnya. (Rul)