Gunung Panderman Terbakar, Akses Pendakian Ditutup

Pemadaman kebakaran oleh BPBD Kota Batu (ist)

MEMOX.CO.ID – Peristiwa kebakaran hutan yang pernah menimpa Gunung Panderman pada 2019 lalu kembali terjadi pada Selasa malam (21/11/2023). Dari data yang dihimpun, kebakaran hutan yang terjadi berada dikawasan sebelah selatan lereng gunung sehingga membuat jalur pendakian menuju Gunung Panderman dan Gunung Buthak ditutup.

Sardi penjaga Gunung Panderman dan Gunung Buthak mengatakan penutupan akan dilakukan sampai kebakaran benar-benar dipadamkan. “Soalnya potensi-potensi yang tidak diinginkan dari bencana tersebut cukup banyak. Jadi kami memutup akses pendaki untuk sementara waktu, beruntung tidak terdapat wisatawan yang tengah melakukan camping ketika peristiwa kebakaran terjadi sampai saat ini,” tuturnya Rabu (22/11/2023).

Menurutnya, meskipun yang terbakar bukan dikawasan jalur pendakian.namun penutupan ini dilakukan untuk meminimalisir dampak yang tidak diinginkan. Mengingat kawasan yang terbakar berasa di jalur sulit karena berupa lereng terjal sehingga ketika ketika terjadi pemadaman maka kemungkinan terjadi material longsor diatas tebing sangat tinggi.

Kondisi terkini Gunung Panderman (rul)

Sementara itu, Kepala BPBD Kota Batu Agung Sedayu mengatakan pihaknya mendapatkan informasi dari warga setempat kebakaran hutan terjadi pada Selasa sore pukul 15.30 WIB. “Menurut warga ada sambaran petir disana, kemudian muncul nyala api dan kami menerjunkan 15 personil untuk memantau keadaan,” ungkapnya.

Beruntung pada peristiwa tersebut tidak terjadi korban jiwa mengingat nyala api pertama berada dikawasan area take off olahraga paralayang. Ia mengakui mengakui sambaran petir mengenai vegetasi pohon cemara dan alang-alang. Sebelumnya 15 personil dari BPBD diterjunkan untuk membuat sekat bakar agar api tidak semakin merembet.

Kondisi setelah 16 jam terbakar, si jago merah menghanguskan 3,5 hektar hutan pada petak 227, “Rabu pagi kami menerjunkan 55 personil gabungan melakukan pemantauan lokasi dan upaya pemadaman dengan dua tim yakni pos 1 Oro-oro Ombo dengan 35 personel dan pos 2 Toyomerto dengan 20 personel,” imbuhnya.

Disinggung terkait pemadaman dengan menggunakan water boombing dengan media helikopter seperti peristiwa empat tahun lalu, Agung tidak menampik hal tersebut meskipun harus diletakkan pada opsi terakhir. Hal ini dikarenakan biaya operasional dalam melakukan water boombing setidaknya mencapai sekitar Rp 150 juta perjam.

“Itu opsi terakhir karena anggaran yang digunakan cukup besar. Haris ada persetujuan dari kepala daerah dan komunikasi dengan BNPB untuk hal tersebut. Namun yang pasti saat ini kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan pemadaman secata manual,” tandasnya. (rul)