Indeks
Hukum  

Giliran Petani Kentang Menjerit

Petani kentang asal Desa Sumberbrantas ketika merawat kentang di lahan pertanian mereka.

Harga Rp 4000 per Kg

Batu, Memo X

Petani kentang di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji menjerit akibat harga semakin menurun dimusim panen kali ini. Tingginya harga pupuk dan perawatan sejak masa menanam hingga panen tidak berimbang dengan hasil yang diperoleh oleh petani membuat mereka mengeluh.

Petani berharap ada peran serta dari pemerintah terutama Dinas Pertanian Kota Batu. Seperti petani kentang bernama Eko S, dalam beberapa bulan ini dirinya mengaku sudah berusaha maksimal bercocok tanam kentang.

 Dengan biaya pupuk mahal serta ongkos pekerja yang semakin naik membuat cosh biaya yang diperlukan juga tak sedikit.  Tapi, saat panen, harga kentang menurun drastis, hal ini membuat dirinya merugi dari segi biaya dan waktu menanam. Memang petani diharuskan bisa mandiri, tapi setidaknya pemerintah ikut peduli kepada mereka karena kentang asal daeranya menjadi salah satu kentang terbaik di Indonesia.

“Bukan disaat kami merugi, kita minta pemerintah membantu. Tapi kami hanya ingin ada uluran tangan dan bantuan dari segi pemasaran dan bantuan fasilitas dari pemerintah untuk meringankan biaya produksi tanam kentang. Tujuannya agar cosh biaya produksi bisa dipangkas lebih rendah dan panen bisa mensejahterakan petani,” harap Eko, Kamis (28/3/2019) siang.

Untuk harga kentang sekarang ini, setiap kilogramnya dihargai oleh tengkulak Rp 4 ribu, padahal biasanya petani bisa menjual perkilo Rp 10 ribu.  Anggota DPRD Kota Batu, Helly Suyanto pun berharap dan menyarankan agar Pemkot Batu segera mencarikan solusinya. Misalnya ada BUMD yang bisa menampung hasil pertanian.

Supaya bisa menstabilkan harga dari hasil panenya. Bahkan keluhan petani bukan hanya dari kalangan petani kentang, melainkan petani buah apel juga merugi dengan masalah yang sama. ” Jadi peran serta dinas harus lebih nyata, bagaimana solusi terbaik agar tidak terulang kembali dimasa mendatang. Karena cita-cita Pemkot Batu sendiri adalah kesejahteraan petani,” tegas Helly.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Pertanian Kota Batu Sugeng Pramono menegaskan pihaknya sudah berupaya maksimal meminimalisir kerugian petani sayur di Kota Batu. Ada pengaturan pola tanam yang disinergikan dengan kondisi iklim.

Seperti satu bagian wilayah Kota Batu paling ujung utara Desa Sumber Brantas merupakan desa penghasil kentang yang sangat potensial. Data Dispertan, untuk luas panen tanaman kentang di desa Sumberbrantas bisa mencapai 450 hektar dengan produksi mencapai 9.000 ton/tahun.

” Meski secara kepemilikan lahan memang tidak semua petani kentang disana mempunyai lahan luas dan modal yang cukup dalam usaha taninya. Berangkat dari itu kami paham peran serta pemerintah/dispertan sangat diharapkan petani dalam mendukung dan mensuport petani untuk kemajuan dan keberhasilan pengembangan tanaman kentang  di desa Sumberbrantas ini,” ungkap Sugeng.

Kentang sebagai salah satu komoditas sayur mayur yang sangat potensial untuk dikembangkan karena secara komparatif tidak semua wilayah lahan bisa ditanami tanaman kentang dan secara pasar kebutuhan akan kentang cukup berpeluang dengan banyaknya permintaan. Apalagi pada akhir-akhir ini sudah banyak industri olahan kentang  dengan deferensiasi produk yang beraneka ragam seperti kripik kentang, kentang goreng dan sebagai bahan dasar berbagai olahan roti atau kue basah.

Sekarang, petani yang tergabung dalam kelompok tani ada sekitar 40% dan mereka mendapat support dari Dinas Pertanian baik berupa sarana prasarana pertanian, bantuan bibit, pupuk organik padat, agensi hayati (untuk hama penyakit), PGPR (untuk pertumbuhan tanaman) serta ada bantuan screen house perbenihan kentang exvitro beserta sarana prasarananya.

Adanya dukungan Dinas Pertanian dalam usahatani kentang tersebut bisa mengurangi biaya input petani sehingga secara perhitungan petani BEP biasanya didapat pada kisaran angka RP. 4.500,- s/d Rp. 5.000,-.

” Dengan adanya bantuan pemerintah tersebut BEP bisa menjadi lebih rendah dibawah angka tersebut. Bahkan dari hasil kunjungan Tim Dinas Pertanian turun ke lokasi didapatkan informasi dari Kelompok Tani Anjasmoro Jaya Abadi 04 bahwa pada saat ini harga kentang dari petani Sumberbrantas antara Rp. 5.500,- sampai Rp.6.000,- yang berarti masih diatas perhitungan BEP atau bisa dikatakan masih ada keuntungan bagi petani meskipun tidak banyak seperti biasanya saat harga kentang bisa mencapai Rp. 9.000,- atau Rp. 10.000,-,” tambahnya.

Secara kualitas memang kentang dari Desa Sumberbrantas termasuk kualitas yang bagus sehingga harga bisa diatas harga kentang yang lain yang kualitasnya lebih rendah. Adanya dukungan dinas terkait terhadap usahatani kentang di Desa Sumberbrantas merupakan bentuk perhatian pemerintah untuk meningkatkan pendapatan petani. Apabila petani merasa berat dengan tingginya harga pupuk dan harga obat-obatan di pasaran hal ini tidak bisa diintervensi oleh pemerintah daerah/dinas terkait karena penentuan harga pupuk dan obat-obatan bukan menjadi kewenangan pemerintah daerah.

Namun sudah 6 tahun terakhir ini pemerintah Kota Batu menghimbau petani untuk melaksanakan pertanian organik dengan  meminimalisir pemakaian pupuk dan obat-obatan kimia sehingga petani bisa mengurangi biaya input produksi.

” Bahkan di daerah Sumberbrantas sudah disediakan rumah kompos untuk membuat pupuk kompos secara mandiri dan tempat untuk pembuatan  Agensi Hayati yang disebut PPAH (Pusat Pengembangan Agensi Hayati),” ujar dia lagi.

Kadang petani terlena dengan adanya kepastian pasar akan tetap lakunya hasil panen kentang ini terkadang membuat petani lupa untuk pengaturan pola tanam  sehingga pada bulan-bulan tertentu dalam satu tahun selalu ada supplay produk yang berlimpah yang mengakibatkan harga kentang menjadi turun.

” Supply berlebih ini tentunya tidak hanya dari satu sentra penghasil kentang tapi dari beberapa sentra penghasil kentang di beberapa lokasi daerah yang berbeda,” imbuh Sugeng.

” Untuk mengatur itu, dispertan sudah mengutus penyuluh pertanian untuk mengingatkan petani agar petani mau menerapkan arahan pengaturan pola tanam yang disesuaikan dengan kondisi iklim yang ada,” terangnya.

Karena turunnya harga kentang sekitar seminggu terakhir ini merupakan pembentukan harga pasar yang secara otomatis berlaku hukum ekonomi apabila permintaan menurun dan supply bertambah. Dalam siklus pasar,  permintaan kentang akan mulai naik pada awal bulan puasa mendatang atau awal bulan Mei sehingga dimungkinkan harga kentang akan merangkak naik lagi pada bulan tersebut. (lih/man)

Exit mobile version