Berita  

Gaung Bondowoso Republik Kopi Mulai Terdengar Lagi

Mantan Bupati Bondowoso, ASH sedang memetik kopi. (sam)

Bondowoso, Memox.co.id -Bondowoso merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia. Secara geografis, 48 persen areanya adalah perbukitan yang ketinggiannya 500 hingga di atas 1000 mdpl (meter diatas permukaan laut). Pada awal Pemerintahan SABAR, gema BRK (Bondowoso Republik Kopi) meredup. Tapi pada sisa kepemimpinannya Wabup Irwan yang tinggal 2 tahun, gaung BRK mulai terdengar lagi.

Saat ini lahan kebun kopi di Bondowoso mencapai 13.649 hektar. Tersebar di dua kawasan. Kawasan lereng Ijen Raung yang berbatasan dengan Banyuwangi dan Situbondo. Dan di sebelah barat ada Lereng Argopuro yang berbatasan dengan Jember dan Probolinggo.

Yang menginisiatori BRK dihidupkan kembali adalah Wakil Bupati, H. Irwan Bahtiar Rahmat, SE, M.Si. Menurutnya, branding BRK sangat strategis untuk mengorbitkan nama Bondowoso ke level nasional, bahkan internasional.

“BRK sudah menasional bahkan sudah terdengar di skala internasional. Realita ini memudahkan Bondowoso untuk dikenal secara nasional dan internasional,” kata Irwan, sapaannya.

Oleh karena itu, Ketua DPC PDIP ini akan segera merumuskan kembali konsep BRK. Tujuannya, disamping untuk menterkenalkan Bondowoso ke dunia nasional dan internasional juga untuk kepentingan ekonomi.

Ditambahkan, dua daerah yang cocok untuk tanaman kopi adalah Ijen Raung, yang meliputi Kecamatan Sumberwringin, Ijen dan sekitarnya. Dan lereng Hyang Argopuro yang berada di wilayah Kecamatan Pakem, Maesan dan Curahdami.

Kawasan Ijen Raung sudah memiliki IG Klaster Kopi Arabica Java Ijen Raung. Hyang Argopuro meliputi Kupang, Andungsari, Kecamatan Pakem dan Maesan. Dengan tidak mengesampingkan Bondowoso sebagai Kota Tape.

Petani kopi di lereng Ijen Raung, Suyitno mengatakan, saat ini ada 44 Kelompok Tani Kopi (KTK). Secara kuantitas, hasil produksi kopi tahun ini menurun drastis. Oleh karena itu, pendampingan dan pembinaan terhadap KTK sangat penting.

“Saat ini, penurunan produksi lebih dari 50 persen. Sebelumnya, paling sedikit, satu hektar bisa menghasilkan empat ton kopi cherry. Saat ini untuk mendapat satu ton saja sulit,” kata mantan KBO Reskrim Polres Bondowoso ini.

Menurun, lanjutnya, karena selama satu tahun lebih, perawatan tidak maksimal. Sehingga hasil produksi tidak maksimal juga. Perawatan tidak maksimal karena kendala modal.

Pihaknya tidak memungkiri, pandemi Covid-19 juga menjadi penyebab terjadinya penurunan kuantitas buah kopi. Selain itu juga disebabkan pasar yang macet. Jika penjualan macet, maka otomatis mempengaruhi terhadap perawatan dan pemupukan. Karena biaya perawatan diperoleh dari hasil penjualan kopi.

Ketua Koperasi Petani Kopi ‘Rejo Tani’ ini memparkan, sudah ada 25 KTK yang mempunyai UPH (Unit Pengolahan Hasil) hilir, seperti bubuk kopi dan sebagainya. (sam/mzm)