Oleh: Fahmi
MEMOX.CO.ID – Pemilihan umum (Pemilu) adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945. Dalam pemilu 2024 ini cukup menuai kontroversi. Sebab pemilih muda atau kerap dipanggil sebagai generasi Z alias gen Z merupakan aset pemilu dengan populasi penduduk yang besar. Serta bisa dikatakan suara gen Z menjadikan penentu kemenangan dengan komposisi suara tertinggi dalam Pemilu 2024. Menurut Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Arya Fernandes mengatakan bahwa pemilihan umum atau Pemilu 2024 mendatang akan didominasi oleh kaum generasi Z yang rentang usianya 8-23 tahun mendekati 60% berdasarkan periode survei pada Agustus 2022.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 273,52 juta jiwa. Sedangkan hasil sensus penduduk 2020, jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total seluruh populasi penduduk di Indonesia. Lalu apa yang menyebabkan kontroversi dalam pemilu 2024? Tentunya gen Z masih sangat awam perihal pemilu ini. Maka diperlukannya kesiapan dari para pemilih muda ini agar siap menghadapi kontestasi pemilu mendatang.
Selain itu, Gen Z harus mendedikasikan dirinya dengan mengikuti pemilu mendatang. Dalam kesuksesan demokrasi membutuhkan partisipasi dari mereka. Karena hak setiap warga negara untuk mengambil keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka adalah dasar dari demokrasi. Kurangnya minat Gen Z pada pemilu mendatang pada tahun 2024 akan sangat disayangkan. Karena hak pilih mereka berdampak signifikan bagi kehidupan mereka dan tentunya untuk memastikan suksesnya pemilu yang akan datang.
Timbulnya sifat apatis dalam pemilu bisa dikarenakan ketidaktahuan para pemilih muda untuk menghadapi pemilu mendatang dan pada akhirnya merekapun memilih untuk golput. Hal ini yang perlu diperhatikan, sebab mau bagaimanapun mereka akan terus bertumbuh menjadi orang dewasa dan akan tetap menjalani proses pemilu ini. Jika mereka memiliki sifat apatis sejak menjadi pemilih muda. Tentu hal itu akan menurunkan marwah dan hakikat dari demokrasi.
Pemilih muda juga harus memiliki pengetahuan tentang perkembangan politik saat ini untuk mencegah sikap apatis dan non-abstain. Ini akan mencegah mereka menjadi apatis terhadap politik. Tapi Gen Z juga tidak boleh mudah terjebak dalam berita politik. Pasalnya, maraknya kasus hoaks justru membuat pemilih muda terjerumus pada hal yang salah. Pemilih muda juga perlu berhati-hati dalam menanggapi berita di media sosial. karena partai politik dituntut untuk mewaspadai peningkatan jumlah pemilih muda ini. Terakhir, partai politik juga memiliki rencana untuk menggaet pemilih muda untuk memilih mereka. dengan memanfaatkan media sosial untuk membantu mereka menarik pemilih muda.
Lalu, persiapan seperti apa yang dibutuhkan pemilih muda? Memahami situasi dan kondisi saat ini merupakan langkah awal bagi pemilih muda. Pemilih muda dibuat sadar akan situasi politik kita saat ini dengan mengikuti berita. Kemudian, pemilih muda harus memilih pemimpin masa depan dengan lebih hati-hati. Melakukan tindakan seleksi secara selektif dengan menganalisis calon pemimpin itu sendiri atau melalui hasil survei. Kesiapan pemilih muda juga berperan dalam aksi komparatif yang digunakan untuk menyeleksi calon pemimpin. karena pemilih muda juga harus bisa memilih kandidat mana yang terbaik untuk kelangsungan hidup mereka. (*)
