MEMOX.CO.ID — Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bondowoso melakukan pemeriksaan dan peninjauan menyeluruh terhadap aset Balai Benih Ikan (BBI) yang berada di Sumber Wringin yang selama ini terbengkalai.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bondowoso, Hendri Widotono menyampaikan, pemerintah daerah telah memberikan instruksi tegas untuk mempercepat penyelesaian seluruh regulasi dan perangkat administrasi yang terkait dengan pemanfaatan aset BBI.
“Kami mendapat instruksi langsung dari pimpinan untuk bergerak cepat. Regulasi harus selesai dalam waktu satu minggu. Jika tidak ada progres, maka OPD terkait akan segera dievaluasi,” ujar Hendri saat ditemui di lokasi peninjauan, Rabu (26/11/2025).

Hendri menekankan bahwa percepatan ini sangat penting untuk mengoptimalkan kontribusi sektor peternakan dan perikanan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus memperkuat kompetensi para pelaku usaha lokal.
Menurutnya, kesiapan regulasi menjadi fondasi utama agar program BBI dapat berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Program ini dirancang mulai operasional pada tahun 2026, sehingga seluruh perangkat regulasi dan dukungan administratif harus rampung sebelum tahun tersebut,” jelasnya.
Selain itu, Ia menyampaikan bahwa pemerintah daerah membuka ruang seluas-luasnya bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk turut berperan aktif dalam pengelolaan aset dan program BBI. Keterlibatan BUMDes diharapkan mampu menggerakkan ekonomi desa dan meningkatkan keberlanjutan usaha peternak dan pembudidaya ikan.
“Bumdes diharapkan dapat mulai mengambil peran aktif sebelum 2026 agar penguatan ekonomi peternak bisa berjalan lebih berkelanjutan,” sambungnya.
Pihaknya, menerangkan dengan langkah strategis ini, Disnakkan Bondowoso optimis bahwa target pembangunan sektor peternakan dan perikanan pada tahun 2026 dapat tercapai sesuai rencana. Ini bukan hanya soal pemulihan, tapi tentang membangun sistem peternakan Bondowoso yang lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing.
“Kami optimis, dengan kerja bersama dan gerak cepat, target 2026 dapat tercapai,” tutupnya.
Diketahui, kegiatan tersebut dilakukan sebagai langkah awal dalam percepatan program penguatan sektor peternakan dan perikanan yang direncanakan mulai beroperasi pada tahun 2026. Namun, kondisi BBI saat ini masih jauh dari memadai. Fasilitas yang ada tampak terbengkalai dan kurang terawat. Bangunan asrama mengalami kerusakan pada sejumlah bagian, mulai dari atap yang bocor hingga lantai yang sudah rapuh.
Halaman yang seharusnya menjadi area pendukung kegiatan kini dipenuhi rumput liar, demikian pula kolam-kolam pembenihan ikan yang terlantar dan dipenuhi gulma. Situasi ini menunjukkan perlunya penanganan serius agar BBI dapat kembali berfungsi optimal dan siap mendukung program strategis tersebut.(rif/syn)






