Indeks

Dispertan Genjot Revitalisasi Kebun Apel

Sekertaris Dispertan Kota Batu Hendri Suseno

Demi Selamatkan Ikon Kota Batu

Memo X.co.id

Apel sejak dulu dikenal sebagai  ikon Kota Batu. Tapi belakangan ini buah apel seolah hampir sirna. Produksi apel yang selalu menurun disetiap tahun mencapai 50 persen dibanding dekade tahun 90 an membuat Dinas Pertanian Kota Batu kelimpungan.

†            Makanya, untuk mencegah keadaan semakin buruk, Dispertan melakukan revitalisasi lahan apel. Saat ini kondisi lahan yang mengkhawatirkan akibat obat kimia yang berlebihan mulai dirasakan dampaknya oleh petani.

” Unsur hara tanah sudah rusak, jadi produksi tidak bisa maksimal, karena pohon apel tidak bisa menyerap makanan. Bayangkan unsur hara lahan apel mencapai 0,04 persen. Seharusnya nilai kesuburan tanah minimal 5 persen mengandung unsur C atau tanah subur,” papar Kabid Hortikultura Dispertan Kota Batu, Yayat Supriatna, Selasa (14/5/2019) siang.

” Makanya revitalisasi lahan terutama apel sangat penting, selain membantu petani juga menjaga ikon Kota Batu,” sambungnya. Revitalisasi sendiri bertujuan untuk menambah unsur hara tanah supaya kembali subur. Akibat pupuk kimia, mikro organisme yang berada di tanah tidak bisa mengolahnya dan menjadi penyakit /racun bagi pohon apel. Karena itu produksi menjadi menurun.

            ” Solusinya lahan akan kami suplai dengan pupuk organik supaya lahan bisa kembali subur, unsur hara pulih dan bisa mendukung pertumbuhan pohon. Memang waktunya lama dan harus bertahap terus menerus dilakukan,” terang Yayat kembali.

Ditempat yang sama, Sekertaris Dispertan Kota Batu Hendri Suseno mengatakan tahun 2019 pihaknya dispertan menyiapkan anggaran khusus revitalisasi lahan apel. Total Rp 345 juta pengadaan pupuk kandang masih proses lelang untuk menyediakan 36 ton pupuk organik.

” Nanti dibagi untuk 24 desa/kelurahan melalui gapoktan dilanjut ke kelompok tani. Harapan kami supaya program ini cepat terealisasi dan bisa membantu petani apel di Kota Batu,” ungkap Hendri.

Untuk tahun lalu, anggaran pupuk senilai Rp 500 juta. Ada penurunan karena anggaran yang minim, apalagi harus dibagi untuk komoditi lainnya dan program-program serupa.

” Target kami setiap tahun mengakomodir 1 hektar lahan. Harus berkelanjutan, karena anggaran tidak menututi,” imbunya. Padahal di Kota Batu lahan pertanian apel mencapai 1800-2000 hektar. Setiap hektar terdapat 1200 pohon, satu pohon butuh suplai pupuk organik 60 kg pertahun.(lih/man)

Exit mobile version