Menyambut pesta demokrasi 2024, terkhususnya Pilpres yang terus menjadi diskursus paling teratas di ruang publik. Percapakan di ruang publik pun tiada habisnya menyoal yang layak diusung dan yang tidak. Yang lahir dari kaderiasi partai dan yang berasal dari kaum profesional dengan popularitas paling tinggi.
Menyoal yang diusung oleh setiap partai sepertinya menjadi perdebatan paling sengit di menuju 2024. Bagi sebagian mereka yang lahir dari dalam rahim kaderisasi terus mempertanyakan yang seharusnya di usung partai.
Namun bagi sebagian lagi bahkan enggan untuk menerima begitu saja. Atas keputusan yang tanpa sebab bagi mereka. Dari kelompok profesional yang tanpa tau apa-apa kontribusinya terhadap partai.
Namun ada sebagaian yang lainnya bahkan sampai-sampai ikut mundur sebagai kader partai. Atas sikap penguasa partai yang tidak sesuai dengan keinginan mereka. Pilpres makin ramai, riuh seperti sebuah perhelatan sebenarnya dari pesta demokrasi itu sendiri.
Ambil conton misalnya, sebuah berita yang dilansir dari CNN Indonesia, pada 6 Oktober 2022 dengan judul ” Deretan Kader Nasdem Mundur Usai Anies Dideklarasikan Jadi Capres”.
Begitupun dalam sebuah wawancara eksklusif di Kompas TV, antara Rosianna Silalahi dan Ibu Puan Maharani, yang mempertanyakan anak kandung dari Ketua Umum PDIP itu mengenai kesiapan untuk maju pada Pilpres 2024.
Jawaban Ibu Puan pun seperti terkesan begitu politis, bahwa pencalonan Presiden 2024 semua tergantung pada keputusan Ketua Umum. Apalagi ditengah melonjaknya nama Ganjar Pranowo, yang terus menguat di berbagai daerah.
Beberapa point di atas, baik Anies yang diusung Nasdem maupun perdebatan internal PDIP mengenai apakah Ganjar Pranowo atau Ibu Puan yang akan diusung untuk maju di pilpres 2024 mendatang.
Dinamika di atas tentu makin hari hari makin menjadi-jadi hingga berefek pada munculnya wacana perpanjangan masa jabatan presiden dan usulan penyelenggaraan pemilu dengan sistem proporsional tertutup.
Siapa yang harus menjadi utusan, tentu menjadi pilihan terbaik partai dengan pertimbangan yang cukup matang. Para kader pun harus siap menerima dengan sikap kerelaan. Sikap kerelaan sebagai kader yang lahir atas kesepakatan yang konsekuen. (*)






