Malang, Memox.co.id – Debora Thesalonica Alexandra (25), salah satu wanita kelahiran Kota Malang yang tinggal di Jalan Selorejo, Kecamatan Lowokwaru. Dirinya kini telah berkecimpung di berbagai macam usaha mulai dari kuliner, dan pernak-pernik.
“Saya punya bisnis catering nasi kuning, camilan pedas, dan aksesoris strap mask, yang saat ini masih terus berjalan,” ungkapnya kepada Memo-X.
Awalmula wanita lulusan D-1 Surabaya Hotel School (SHS) ini berbisnis dari kegemarannya dalam pekerjaan dapur yaitu memasak. Dimana sebelum dirinya memiliki usaha sendiri wanita yang akrab disapa Debora ini pernah bekerja di beberapa perusahaan.
“Setelah lulus dari (SHS) Surabaya, saya sempat bekerja di Food And Baverage (F&B) Hotel Savana selama kurang lebih 6 bulan kemudian pindah ke Restoran Pupuk Bawang selama 5 bulan,” ujarnya.
Namun Debora, selama bekerja merasa kurang bisa mengeksplor lebih jauh potensi yang dimiliki. Akhirnya dia memutuskan untuk mencoba membuka usaha sendiri.
“Akhirnya saya memutuskan untuk membuka usaha sejak tahun 2017, mulai dari risbol, merupakan makanan yang dikemas dengan mangkok kertas,” tuturnya. Sayangnya pertama kali dirinya mencoba untuk menjual risbol ini mengalami kegagalan, karena persaingan yang cukup ketat dari kompetitor dikala itu.
Meski begitu, Debora tidak menyerah. Ia kembali membangun usaha di bidang kuliner bernama CUNZ, disana menyediakan berbagai macam makanan mulai dari tumpeng, nasi kuning, hingga segala macam makanan untuk berbagai macam event, yang hingga kini masih berjalan.
“Saya menjalankan catering, ini dibantu ibu saya, terkadang kalau pesanan banyak saya memperkerjakan pegawai untuk membantu, syukur hingga sebelum pandemi cukup banyak pesanan yang saya dapat,” imbuhnya.
Setelah mendulang kesuksesan di usaha catering itu, Debora merangkak mencoba mengembangkan usaha melalui camilan ringan di tahun 2020. Untungnya meskipun dimasa pandemi Covid-19 dirinya tidak merasa hal tersebut menjadi halangan.
“Sebenarnya pada saat saya membuka usaha camilan ini kan, bertepatan di masa pandemi sedikit ada rasa takut bakal gagal lagi. Tapi saya telah membulat tekad bahwa pandemi itu bukan halangan untuk saya terus berinovasi,” katanya.
Tidak sampai disitu saja, Debora kembali melihat peluang baru di bidang pernak-pernik yang kini sedang digandrungi khalayak ramai, yaitu strap mask, tali pengait digunakan untuk menggantungkan masker.
“Dimasa pandemi saat ini, masyarakat selalu menggunakan masker, kadang pada saat makan atau minum dilepas. sehingga bakal repot mengeluarkan, memasukkan masker kedalam tas, jadi adanya strap mask ini sangat membantu, dan juga bisa terlihat fashionable,” jelasnya.
Ketika ditanya mengenai motivasi apa yang membuat Debora bisa terus berkembang dan memunculkan inovasi-inovasi baru. Dirinya menganggap pekerjaan itu merupakan kebutuhan yang harus dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Diakhir, dirinya memberikan pesan kepada anak muda supaya bisa lebih menghargai waktu, dan jangan menyerah meskipun telah mengalami kegagalan.
“Yaa, inget inget kalau nggak dimulai dari sekarang mau mulai kapan lagi. Jadi selama kita masih muda sebisa mungkin kita menghargai waktu. Males itu boleh tapi jangan keterusan. Istirahat itu boleh cuman itu semua ada waktunya. Gagal itu tidak terhindarkan namun jangan menyerah dan coba lagi,” tutupnya. (gab)
