Opini  

Darurat Kesehatan Mental di Indonesia

Nazwa Alhya Arimbi Putri Pratiwi

Oleh: Nazwa Alhya Arimbi Putri Pratiwi, Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang

MEMOX.CO.ID – Darurat kesehatan mental merupakan isu yang serius dan perlu mendapatkan perhatian lebih. Belakangan ini sedang tren kasus bunuh diri di sosial media, di kalangan remaja tentunya. berdasarkan data pusat informasi kriminal nasional Kepolisian Republik Indonesia (polri), terdapat 970 sekian kasus bunuh diri di Indonesia antara januari hingga 18 Oktober 2023. Salah satu fakta mengenai darurat kesehatan mental di indonesia yaitu, rendahnya kesadaran dan akses terhadap layanan kesehatan mental.

Kesehatan mental  penting untuk menunjang produktivitas dan kualitas kesehatan fisik. Data Riskesdas (riset kesehatan dasar) tahun 2018 menunjukkan prevalensi gangguan mental afektif yang ditandai dengan gejala depresi dan kecemasan pada penduduk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 6,1% dari total penduduk Indonesia atau setara dengan 11 juta jiwa. Remaja memiliki angka depresi sebesar 60%. Depresi berat akan menimbulkan kecenderungan  menyakiti diri sendiri atau self-harm bahkan bunuh diri.

WHO dalam situsnya dalam rangka “Hari Kesehatan Mental Sedunia 2021” menyatakan bahwa satu dari tujuh anak usia 10 hingga 19 tahun yang mengalami gangguan jiwa. Faktanya, setengah dari penyakit ini muncul sebelum usia 14 tahun namun tidak terdeteksi dan diobati dengan baik. Sementara itu, berdasarkan data Riskesdas (riset kesehatan dasar) tahun 2018, terlihat prevalensi psikosis afektif yang ditandai dengan gejala depresi dan kecemasan pada masyarakat berusia 15 tahun ke atas berjumlah sekitar 6,1% dari total penduduk.

Dampak buruk terhadap kesehatan mental remaja dapat mempengaruhi kehidupan sosial, prestasi sekolah, interaksi dengan teman dan keluarga, produktivitas kerja dan menimbulkan penyakit fisik. Selain itu, gangguan kesehatan jiwa pada remaja juga dapat menimbulkan perilaku kriminal seperti penyalahgunaan narkoba dan alkohol serta seks bebas.

Gangguan kesehatan jiwa juga dapat mengubah cara remaja dalam menghadapi stres, berinteraksi dengan orang lain, menentukan pilihan, dan membangkitkan hasrat untuk menyakiti diri sendiri. dan, Untuk mencegah dampak negatif gangguan kesehatan jiwa pada remaja, perlu dilakukan upaya preventif seperti menjaga aktivitas fisik, menjaga pikiran  positif, menjaga hubungan baik dengan sesama, istirahat dan tidur yang cukup,  mendekatkan diri kepada Tuhan. Jika kamu merasa menderita gangguan jiwa, sebaiknya konsultasikan dengan profesional untuk mendapatkan bantuan, usahakan berbicara dan berkomunikasi dengan orang tua atau orang dewasa, jaga kesehatan fisik, dorong diri kamu untuk bersosialisasi dan tidak mengisolasi diri. Hal ini dibuktikan dengan proporsi penderita gangguan jiwa yang dirantai: 13% dirantai selama hidupnya dan 31,4% dirantai dalam 3 bulan terakhir. Selain itu, 90% sekian penduduk Indonesia yang mengalami gangguan jiwa tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, dan hanya 10% sisanya yang dapat menerima pengobatan. Tidak mendapat perawatan yang tepat dapat menjadi pertanda kurangnya fasilitas layanan kesehatan jiwa serta kurangnya pemahaman tentang kesehatan jiwa.

Masyarakat cenderung memberikan stigma negatif terhadap penderita penyakit jiwa atau gangguan jiwa, termasuk mencela dan memandangnya sebagai hal yang memalukan bahkan menyebut mereka gila. Hal ini membuat orang dengan gangguan kesehatan mental lebih cenderung mengalami kesulitan untuk terbuka mengenai pengobatan dan  merasa lebih tertekan oleh stigma sosial. Masyarakat harus lebih terbuka dan peka terhadap gangguan kesehatan mental di sekitarnya.

Mahasiswa mungkin paling sering mengalami depresi ketika mereka mengalami perubahan antara masa remaja dan dewasa. Mahasiswa akan menghadapi tekanan dan tantangan yang mungkin disertai dengan perasaan cemas terhadap beban studinya, terutama ketika  ditanya tentang skripsi atau tanggal kelulusannya. Hal ini dapat menyebabkan orang tersebut merasa kewalahan dan mengembangkan perasaan stres dan depresi. Dan juga, depresi sering terjadi pada orang yang jauh dari rumah sehingga membuat mereka merasa berjuang sendirian.

Tidak peduli seberapa serius masalah depresi yang kamu alami, bunuh diri bukanlah jawaban akhir atas semua masalah. Dalam ajaran semua agama, bunuh diri adalah hal yang sial dan haram karena dapat menimbulkan bencana lebih lanjut bagi keluarga yang ditinggalkan pasca bunuh diri. Oleh sebab itu, penanganan gejala depresi harus dioptimalkan untuk mengurangi risiko bunuh diri dan mencegah bunuh diri pada penderita depresi.

Mencegah depresi dapat dilakukan dengan mengelola stres. Pengelolaan stres pada setiap orang pasti berbeda-beda, ada pula orang yang mengelola stres dengan melakukan aktivitas seperti hobi, melakukan aktivitas refreshing, mendekatkan diri dalam konteks spiritualitas keagamaan bahkan bercerita kepada orang lain untuk meringankan beban stres. Meski ada stigma sosial, keberanian untuk  terbuka terhadap orang lain dan berobat adalah salah satu langkah menuju arah yang benar. Di era digital saat ini, banyak platform yang menawarkan layanan konsultasi online gratis atau berbayar. Juga beberapa pusat kesehatan juga menawarkan konseling psikologis gratis atau terjangkau. Pemahaman masyarakat Indonesia terhadap kesehatan mental  masih rendah. Setiap orang pasti mempunyai jiwa yang berbeda-beda, ada yang lemah saat menghadapi  masalah dan ada pula yang kuat saat menghadapinya. Dan kita sebagai penonton tidak pantas menganggap enteng setiap masalah yang  dihadapi orang lain. Sebab apa yang kita anggap sepele dan mudah, belum tentu sama bagi orang lain. Menjadi lebih peka terhadap kondisi mental dan orang-orang di sekitar adalah sesuatu yang perlu ditingkatkan saat ini. Memprioritaskan kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Pendidikan, kesadaran dan tindakan pencegahan dapat membantu masyarakat mengidentifikasi dan mengelola masalah kesehatan mental. Berpartisipasi dalam diskusi terbuka tentang kesehatan mental dapat mendorong perubahan positif dalam sikap dan pendekatan terhadap layanan kesehatan mental. Kesehatan mental yang baik adalah hak setiap individu, dan upaya untuk menjaga keseimbangan pikiran dan emosi adalah investasi berharga dalam kehidupan yang lebih baik. Sebab kesehatan mental bukanlah hal yang sepele dan siapapun bisa mengalaminya. Jika sedang tidak baik-baik saja, jangan sungkan meminta bantuan orang lain. (*)