Cucu Pendiri NU Klaim 10 Ribu Warga Jatim Bakal Ke Jakarta

Gus Ali: Warga Nahdliyin Saya Pastikan Tak Ada yang Berangkat

Surabaya, Memox.co.id -Wakil Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim), KH Agus Ali Masyhuri menegaskan, jika tak akan ada warga Nahdliyin dari Jatim yang ikut ke Jakarta untuk aksi people power yang digalakkan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

“Enggak ada orang NU yang berangkat. Siapa? Enggak ada yang berangkat. Saya jamin saya mewakili Rais Am, (orang) NU enggak ada yang berangkat,” tegas Gus Ali usai menghadiri acara Buka Puasa Bersama Kapolda Jatim dan Forkopimda Jatim di Mapolda Jatim, Jumat (17/5).

Menurut Gus Ali, sapaan akrabnya, apabila ada pihak yang tidak sepakat dengan hasil penghitungan KPU, sebaiknya diselesaikan di jalur hukum dan tak harus memobilisasi massa dengan melakukan demo.

Kiai yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo ini menilai, jika sepanjang peradaban manusia, emosi dan kekerasan tidak akan pernah menyelesaikan masalah. “Republik ini butuh damai, bukan butuh onar,” keluh Gus Ali.

Oleh karena itu ia pun meminta agar semua pihak seharusnya menyebarkan kedamaian dan tidak menebar perselisihan di tengah-tengah masyarakat. “Sebarkan salam, cinta kasih dan damai. Barang siapa yang mau menjadi orang besar, harus berpikir besar dan berjiwa besar. Kalau tidak ada kepuasan, tempuh prosedur yang ada. Dan tidak ada orang NU yang berangkat (ke Jakarta),” pungkas Gus Ali.

Sebelumnya, cucu salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Wahab Hasbullah, KH Solachul Aam Wahib Wahab atau Gus Aam, mengklaim ada sepuluh ribu masyarakat Jawa Timur yang siap berangkat ke Jakarta, untuk mengawal prosesi penetapan pemenang oleh KPU untuk pemilihan presiden (pilpres) dan wakil presiden (wapres) pada 22 Mei 2019 mendatang.

Gus Aam mengatakan, sekitar sepuluh ribu masyarakat tersebut tergabung dalam Forum Umat Islam (FUI) se Jawa Timur. Jumlah itu pun, dimungkinkan akan terus bertambah menjelang 22 Mei.

“Sekitar 10 ribu (massa) yang masuk ke saya. Tapi bukan saya saja. Kan banyak. Dari kiai mungkin ada, yang lain-lain ada,” kata Gus Aam, disela aksi FUI di Bawaslu Jatim, Surabaya, Jumat (17/5).

Keberangkatan ribuan massa dari Jatim itu pun, kata dia dilakukan secara berangsur-angsur, dan dimulai Sabtu (18/5) besok.

“Yang udah siap berangkat, mulai Sabtu (18/5), iya berangsur-angsur,” kata Gus Aam.
Gus Aam menampik bila keberangkatan ribuan masyarakat Jatim ini dikaitkan dengan gerakan people power yang digaungkan oleh tokoh politik Amien Rais, beberapa waktu lalu. “Sebenarnya kita tidak (people power).Kita kan aksi damai ingin menuntut kedaulatan rakyat, kan tentu sesuai dengan UU 45,” kata Gus Aam.

Ia menambahkan, pihaknya juga tak melakukan instruksi apapun, secara khusus kepada ribuan massa dari Jawa Timur tersebut. Ia mengatakan hal itu sebagai panggilan umat.

“Sebenarnya kita tidak instruksikan tapi memang hampir semua relawan terpanggil ada yang jalan, ada bis, ada yang pakai kereta api, ada yang pakai pesawat. Kita hanya imbau saja bersama berjuang mengawal suara Pak Prabowo,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gus Aam jiga membantah bila ribuan massa itu, disebut dibiayai oleh sejumlah pihak untuk bertolak ke Jakarta. Gus Aam mengatakan massa menggunakan biayanya masing-masing secara sukarela.

“Relawan (biaya) sendiri, mereka urunan sendiri, berangkat cari makan sendiri. Kan juga banyak punya teman di sana di jakarta. Jadi Insha Allah tidak terlantar. Karena hampir semua masjid menyiapkan. Disiapkan kok,” pungkasnya.

Senada, salah satu koordinator FUI Jatim, Ustaz Sasmito mengatakan sejumlah umat Islam di Jawa Timur sudah siap berangkat menuju Jakarta. “Tunggu komando ulama, kiai-kiai kita, anda tahu sendiri ada (cucu) pendiri NU,” kata Sasmito, ditemui di lokasi yang sama.

Ia kemudian juga menanggapi imbauan Menko Polhukam Wiranto yang pemerintah dan aparat di seluruh daerah menghalau pergerakan masyarakat menuju DKI Jakarta pada waktu pengumuman hasil rekapitulasi suara pemilu oleh KPU pada 22 Mei 2019.

Menurut Sasmito, perintah Wiranto tersebut adalah hal yang lucu. Ia bahkan mengatakan pelarangan yang dilakukan itu adalah pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

“Ini lucu ya, negeri kita ini kok kita mau pergi kok gak boleh itu kan lucu, apa (Jakarta) itu luar negeri. Itu kan umat, aspirasi umat, kita gak bisa melarang umat melarang orang mau pergi kemana saja, itu melanggar hak asasi manusia,” pungkasnya. (sur/ano/jun)