Lebih jauh, Trillya Yuliana berharap santri mengembangkan semangat kewirausahaan sekaligus meningkatkan perekonomian di pondok pesantren. Kedepannya santri terbiasa hidup mandiri dan berdikari sehingga selalu mendapatkan manfaat.
“Kita tahu, ponpes itu punya peran yang besar dalam mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan agamanya. Sebuah lembaga pendidikan yang juga berfungsi sebagai pusat siar agama Islam,” katanya.
Terlebih lagi, bergerak saling menunjang. Pendidikan dijadikan bekal mengumandangkan dakwah. Sedangkan dakwah sendiri bisa dimanfaatkan sebagai sarana membangun sistem informasi.
“Oleh sebab itu, pesantren diakui sebagai lembaga pendidikan yang mempunyai kesetaraan dalam hak dan kewajibannya dengan lembaga pendidikan formal lainnya,” tutur Trillya Yuliana.
Salah satu peserta sekolah lapang, Lila Puspita mengaku cukup antusias mengikuti giat tersebut meski sebelumnya tidak mengetahui apa itu sekolah Lapang.
“Saya berpikir, mungkin sudah amanah pasti baik buat saya. Saya pun datang mengikuti sekolah lapang budidaya lele probiotik dan gradding ini,” akunya polos.
Ia tampak mengikuti betul setiap penjelasan yang disampaikan narasumber. Sesekali, remaja belasan tahun itu terlihat serius menanyakan hal-hal yang dirasa masih belum mengerti. Hingga akhirnya mengaku puas dan memiliki gambaran bagaimana melanjutkan hidup setelah lulus dari Ponpes.
“Kedepan punya gambaran, kalau selama ini cuma tahu penyet lele, sekarang tahu bagaimana cara memulai usaha mendatangkan cuan,” pungkasnya. (hud/ono).






