Indeks

Bisnis Tape Bondowoso Kian Memprihatinkan

Mbah Tosaan saat meracik tape.

Bondowoso, Memox.co.id – Bondowoso terkenal dengan sebutan Kota Tape hingga tingkat nasional. Tapi sayang, pengusaha tape tidak seberuntung ketenaran ikonnya. Ini akibat dampak dari pandemi Covid 19. Sebelum virus Corona mewabah di Bondowoso, setiap hari pengusaha tape bisa menghabiskan 8 kwintal bahan baku.

Tapi sekarang merosot tajam, hanya mampu menghabiskan 3 kwintal saja. Penyebabnya, omzet penjualan berkurang. Tape ini dijual di sejumlah pasar di Bondowoso. Saat ini pengepul hanya mampu menjual tape maksimal 30 besek tiap hari, sebelumnya 50 besek.

Tossan, Warga Dusun Krajan Desa Sumber Tengah mengatakan, akibat usahanya terpuruk, pendapatan dari jual tape juga turun drastis dari Rp 300 ribu menjadi Rp 100 ribu setiap hari.

“Satu-satunya usaha untuk menghidupi keluarganya dengan meproduk tape. Dikelola secara home industri. Sekarang penjualan tape merosot tajam akibat virus Corona,” kata embah Tossan.

Tossan berharap, virus Corona segera enyah dari Bondowoso. Sehingga usaha tapenya bisa lancar kembali. Demikian juga bantuan dari Pemerintah sangat diharapkan untuk mengurangi beban hidupnya.

Sementara itu, Junaidi, Ketua Asosiasi Pengusaha Tape Bondowoso (APTB) 2014-2016, mengatakan imbas kenaikan harga bahan baku, kondisi bisnis Tape Bondowoso kian tahun semakin memprihatinkan.

“Sebenarnya kalau cuma sekedar singkong banyak sih. Tapi yang memenuhi standar kualitas masih susah. Langkanya sejak tahun 2014-an,” papar Junaidi.

Tidak hanya terhimpit kesulitan bahan baku. Tape Bondowoso juga banyak diklaim oleh daerah lain. “Kalau dulu, tahun 90-an, kita kalau jual Tape hingga Situbondo dan Probolinggo, kalau ada Tape Bondowoso, sudah dipastikan itu berasal dari Bondowoso. Kalau sekarang tidak lagi,” ujarnya.

Saat ini banyak Tape yang dilabeli tape Bondowoso, padahal dibuat di Situbondo, Probolinggo atau daerah lain. “Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa merk Tape Bondowoso sudah cukup kuat brandingnya. Tapi di sisi lain, ini berarti perlindungan merk Tape bondowoso tidak ada,” papar Junaidi.

Karena itu, pihaknya berharap ada komitmen lebih dari Pemkab untuk memberikan perlindungan dan pembinaan bagi UMKM Tape Bondowoso yang sudah menjadi kekhasan daerah.

“Kelemahan Tape Bondowoso adalah tidak ada perlindungan paten dari daerah. Seperti misalnya, Sale Pisang yang sudah dipatenkan Banyuwangi. Dan beberapa jenis makanan lain, banyak yang dipatenkan di Banyuwangi. Sedangkan di Bondowoso, minim perhatian pemerintah,” tutur pria yang kini menjabat sebagai Ketua Bidang Pengembangan Usaha APTB ini.

Kondisi paten daerah ini berbanding terbalik dengan paten merk yang sudah banyak dilakukan oleh sebagian besar pelaku usaha Tape di Bondowoso.

“Saat ini saya sudah punya paten merk. Di tambah sedang mengurus uji kandungan gizi di BPOM Surabaya dan uji kehalalan di MUI Jatim di Surabaya,” papar alumnus Unibo ini.

Untuk memperkuat lini usaha, Junaidi saat ini fokus memperkuat produk varian Tape, yakni Suwar-Suwir. Sekitar 25 persen pelaku usaha tape di Bondowoso, memproduksi Suwar-Suwir.

“Sebenarnya suwar-suwir ini keuntungannya lebih kecil, tetapi resikonya minim. Karena awet secara alami. Beda dengan Tape yang hanya bertahan beberapa hari,” kata Junaidi. (sam/mzm)

Exit mobile version