Menengok Budaya Warga Batu Pasca Lebaran
Batu, Memox.co.id – Tradisi ater-ater ketupat, setelah sepekan hari raya Idul Fitri selalu dijalankan rutin oleh masyarakat di beberapa daerah, termasuk di Kecamatan Batu Kota Batu. Seperti masyarakat di Desa Pesanggrahan, yang menggelar kegiatan ‘rioyo kupatan’. Seperti apakah itu ? …
Melestarikan budaya ini merupakan aset dari kearifan lokal masyarakat di desa tersebut dan semakin memperat rasa kebersamaan serta tali silatrahmi antar warga. Menurut Rumayah (70) warga Pesanggrahan tradisi ater-ater ketupat tersebut merupakan warisan turun temurun dari leluhur. “Pelaksanaanya pas bertepatan hari ke tujuh Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran Ketupat,” ujarnya, Selasa (11/6).
Ia menjelaskan, masing-masing warga atau setiap rumah membuat ketupat lontong beserta masakannya. Sedangkan masakan yang biasa dibuat adalah opor ayam maupun kari ayam. “Ada yang masaknya sendiri-sendiri, ada pula yang masaknya bersama-sama. Kebanyakan masaknya sendiri, kemudian diserahkan kepada tetangga maupun sanak saudara. Satu per satu masyarakat mendatangi rumah-rumah untuk mengantar ketupat,” tuturnya.
Tak ayal rumah setiap warga dipenuhi oleh masakan ketupat. Lantaran hampir semua rumah membuat ketupat beserta makanannya. Ada juga ritual khusus yang dijalankan beberapa Pondok Pesantren memakan ketupat bersama. Mulai dari pegurus pondok pesantren, santri dan warga makan ketupat bersama.
Menurutnya, makan ketupat bersama merupakan simbol kebersamaan. Selain itu, sebagai simbol keguyub rukunan yang dijalankan oleh keluarga besar umat Islam yang ada di masing-masing pondok pesantren. Menurutnya, banyaknya tradisi saat Lebaran ini menunjukan kerukunan masyarakat. Melalui menjalani serangkaian tradisi tersebut dengan bertujuan untuk meningkatkan tali silaturahmi.
“Pada saat bertamu untuk bersilaturahmi serta bermaaf-maafan, selalu membawa hantaran atau ater-ater berupa ketupat tersebut, sebagai bentuk keramahan warga kami.” terangnya.
Selanjutnya, tradisi ini terus dijalankan oleh warganya karena sudah menjadi budaya yang telah mendarah daging.
Terpisah, Maman (40) warga Desa Oro-oro Ombo Kecamatan Batu mengungkapkan lebaran kupat yang dilaksanakan warga itu, waktunya berbeda-beda. Misalnya ada yang tepat 6 hari setelah lebaran ada pula yang 5 atau 7 hari setelah idul fitri.
“Kalau di desa saya akan digelar Rabu (12/6). Jadi berbeda dengan desa Pesanggrahan. Namun, itu semua tidak menfurangi makna lebaran kupat. Yang intinya, sebagai wujud syukur dan mengandung nilai kebersamaan yang tinggi,” pungkasnya. (jun)
