Arimbo Musik Patrol Angkat Seni Budaya Lokal Jember

26
0
Arimbo, grup musik patrol asal jember.

Jember, Memox.co.id – Arek Imam Bonjol (Arimbo), adalah nama grup musik patrol Jember yang bermarkas di Jalan Gajah Mada XXIII yang dipimpin Mas David dan serulingnya, Muhammad Erwin mengangkat Jember bangkit melalui seni musik patrol dengan beberapa lagu unggulan khas masyarakat Jember dengan judul Pak Burah.

Lagu ini sedang dipersiapkan untuk festival lagu tradisional dari kementerian pariwisata dan ekonomi kreatif di Jakarta mewakili kabupaten Jember, Sabtu (27/3/2021).

Pimpinan Musik Patrol Arimbo, David mengatakan, Musik Patrol Arimbo ini berdiri sejak tahun 1980 dipimpin pak Sih, namun sejak 2017 Arimbo Condro Bigh Family atau Arimbo Junior merupakan generasi ke 2 dengan pemiliknya, Dony Suyitno .

Terkait dengan lagu pak Burah Sakera Kalisat menceritakan. Di Kalisat ada napak tilas sejarah yaitu perjuangan seorang rakyat kecil melawan Belanda membentuk suatu laskar-laskar waktu itu, Laskar Burah.

“Konon beliau ini kebal senjata, tidak bisa luka namun pak Burah ini meninggalnya dibakar oleh Belanda saat itu, saya juga mempunyai salah satu bukti sejarah yaitu berupa foto pak Burah saat dibakar oleh Belanda saat itu,” ungkapnya.

Selain musik patrol juga ada tarian yaitu Tarian doro Gethak sebab dalam Saduluran Tim Merpati Jember (STMJ) komunitas merpati di kabupaten Jember, juga menemukan tradisi baru yaitu To’taan Merpati.

“Karena to’taan ini merupakan kearifan budaya Jember ini kita angkat juga dengan kita padukan dengan Musik Patrol Arimbo dengan tari tarian yaitu tarian Doro Gethak judulnya ini sedang dalam proses pengarapan mas,”ungkap David.

Menurut David, musik patrol berawal dari kebiasaan masyarakat Jember tempo dulu yang senang memelihara burung merpati .Dari kebiasaan itulah beberapa warga mulai terbiasa dengan alat musik ketuk.

Awalnya hanya dimanfaatkan untuk memanggil merpati, karena semakin banyak warga yang memelihara merpati, alat musik ketuk inipun berkembang menjadi sebuah ritme tersendiri.

“Kemudian berkembang sebagai musiknya para penjaga perkebunan. Karena mayoritas warga Jember tempo dulu adalah muslim, musik patrol lebih dikembangkan pada saat Bulan Suci Ramadan untuk membangunkan warga saat di waktu sahur,” pungkasnya. (tog/mzm)