Indeks
Hukum  

Antara Bingung dan Frustrasi

Isu-isu tentang politik selalu menjadi magnet warganet untuk menanggapinya. Ada yang serius, ada yang biasa saja, sebagai bahan candaan dan diskusi seru di warung kopi, tetapi bahkan bisa menjadi pemicu permusuhan antar teman dan keluarga, dan yang sampai frustrasi melihat kecenderungan politik yang semakin lama semakin ngawur. Mungkin yang menjadi pemimpinnya adalah manusia pilihan, manusia langka yang memang diperlukan untuk memimpin ratusan juta rakyat yang isi otaknya beda- beda. Tidak mungkin menyatukan arus pemikiran masyarakat dalam satu visi. Yang ideal bagi dia belum tentu ideal buat saya, anda atau mereka. Begitu juga saat menanggapi fenomena golput. Boleh jadi anda yang sudah menentukan pilihan sangat membenci orang yang tidak “tidak punya pendirian” dengan memilih abstain alias tidak memilih, kalian berada di luar pagar pilpres kali ini. Sampai saat ini mengenai pilihan Gubernur atau pilihan Presiden pilihan jelas, paling tidak memilih yang terbaik diantara yang paling buruk. Secara ideal jika menyangkut pemimpin sempurna tentu amat relatif. Setiap orang mempunyai kriteria sendiri dalam memilih pemimpinnya. Karena manusia tidak sempurna jika ada kesalahan sedikit dari pemimpinnya ada saja yang akhirnya harus berpaling, lalu meninggalkan sosok yang pernah dia idolakan. Ia mencoba berpindah ke lain hati. Ternyata tetap tidak bisa menentukan manusia pemimpinnya itu sempurna. Ia lalu lari lagi mencari sosok yang ideal. Tetapi belum ada maka dipilihlah Golput (golongan Putih). Bingungnya manusia golput itu juga harap dimaklumi karena bagaimanapun ada dilema dalam dirinya. Jika memilih ini konsekuensinya ini, sama seperti ketika mencoba realistis memilih satunya tetapi ada kekecewaan tersendiri yang membuat ia tidak respek pada sosok yang sebetulnya diidolakan. Saya memahami mereka yang memilih Golput, hampir sama ketika saya juga bingung memilih caleg. Sejak Orde baru tumbang sebetulnya saya juga abstain jika harus memilih wakil rakyat. Bagaimana mau memilih wong rekam jejaknya saja tidak saya ketahui. Mereka hanya memajang foto, minta dipilih tetapi apa keuntungannya bagi saya. Sementara ketika melihat jejak- jejak politisi yang berada di Senayan sungguh mengecewakan. Paling hanya satu dua sosok yang dikenal, itupun karena seringnya berdebat di televisi. Tapi mengenai Presiden, saya tetap harus memilih. Diantara yang terburuk haruslah dipilih yang paling baik. Tidak ada yang sempurna tetapi paling tidak yang optimis dan mau kerja keras. Membangun narasi kebangsaan itu harus menumbuhkan rakyatnya untuk optimis. Pemimpin itu harus menginspirasi, bukan menakut- nakuti. Bila sejak awal dibangun rasa ketakutan maka akan mempengaruhi psikologi masa yang selalu pesimis terhadap bangsanya. Masyarakat harus optimis percaya pada diri sendiri, bukan semua salah pemimpinnya. Kalau usaha keberhasilan seseorang tentu tergantung pada diri sendiri. Ada saatnya jatuh, ada saatnya bangun dan bangkit dari keterpurukan. Dalam setiap perjalanan kehidupan akan selalu muncul masalah yang tidak terprediksi. Kehidupan itu misteri. Pemimpin yang baik tidak bisa sendiri harus mempunyai partner pilihan yang mampu menterjemahkan pemikiran, visi dan misinya. Rakyat membantu tidak hanya menjadi pengritik tetapi membantu pemerintah mewujudkan rencananya. Kalau rakyat antipati dan cenderung membelah, menjadi oposan yang bisanya hanya mengritik dan mengritik. Merasa pintar dan menganggap apapun kebijaksanaan penguasa “dungu” suatu saat jika menjadi penguasa tentu akan mendapat perlakuan sama. Masalah tidak akan selesai- selesai dengan hanya menggenggam ego “keminter”. Seperti sudah mengawang- awang menggenggam dunia hingga berhak membahas tentang Tuhan, agama dan seenaknya keluar masuk tempat beribadat untuk membahas sesuatu yang fiksi. Kalau mau pilih Presiden Pilih saja yang buruknya lebih sedikit baiknya lebih banyak nah lho yang bagaimana itu…! Silahkan pikir sendiri. Salam Damai. (*)

Exit mobile version