Begitu juga, pembuatan pupuk kompos padat hanya membutuhkan daun kering, cairan EM4, air dan larutan gula merah. Untuk POC terdiri dari beberapa bahan yaitu, tauge (kecambah), air cucian beras pertama, air kelapa, gula merah, cairan EM4 dan bonggol pisang.
Caranya bonggol pisang dan tauge ini diblender bersama air cucian beras, baru kita masukkan ke timba dan dicampurkan dengan larutan lainnya seperti air kelapa, EM4 dan larutan gula merah. Sekitar 7 harian baru bisa digunakan pupuk organik cair tersebut. POC tersebut harus dicampur dengan air saat akan digunakan. 10 ml POC dicampurkan ke 1 liter air dan bisa disiramkan ke tanaman.
Disisi lain, inovasi pembuatan pupuk kompos padat dan POC ke beberapa RW di Kelurahan Curah Grinting. Selain dipraktekkan di Taman Hatinya PKK di kelurahan, harus juga bisa dipraktekkan di PKK tingkat RW, RT dan Dasawisma. Sehingga, semua bisa melaksanakan dan bukan hanya sekedar menerima informasi saja.
“Sudah 10 kali panen. Hasilnya diberikan untuk balita yang stunting dan gizi kurang, disabilitas, serta ibu hamil. Program ini memang untuk mendukung pencegahan stunting,” terang Riang Dwi Purwitasari.
Ke depan, Riang Dwi Purwitasari bermimpi masyarakat di sekitar Kelurahan Curahgrinting sudah berdaya, dengan menyiapkan pupuk kompos padat dan POC yang bisa dipasarkan, agar semakin memberdayakan ekonomi masyarakat.
“Cuaca ekstrem akan terus belajar dalam merawat tanaman dan mengantisipasi kendala-kendalanya. Terus semangat belajar agar ilmu yang didapat bermanfaat. Hasilnya bisa dimanfaatkan warga Curah grinting,” pungkasnya. (hud/ono)






