MEMOX.CO.ID – Di pelosok Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang, berdirilah sebuah rumah ukuran 7×25 meter persegi. Rumah dengan cat tembok putih itu dikenal warga sebagai sandaran harapan saat mereka terhimpit.
Bagaimana bisa dikatakan demikian, sebab, Ita Purnamasari, yang tinggal bersama suami dan satu orang anak laki-laki, sejak tahun 2019, sudah melayani pinjaman kepada masyarakat dengan jaminan barang berharga (gadai).
Maka dengan itulah, bagi sebagian warga, tempat itu bukan sekedar bangunan yang berisikan tiga orang keluarga yang rukun. Melainkan gantungan harapan ketika warga sedang tertekan. Apalagi, untuk pergi ke Pegadaian yang terletak di Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, itu memerlukan waktu kurang lebih setengah jam. Belum lagi jalanan yang berlubang bisa menghambat sampainya ke tujuan.
Dalam kesempatan itu Ita sapaan akrabnya mengatakan bahwa, dirinya berminat menjadi Agen Gadai bermula saat ia terhimpit. Pegadaianlah satu-satunya penyelamat yang bisa ia andalkan dalam urusan uang. Karena, jika meminjam kepada tetangga, famili bahkan sanak saudara, itu potensi keretakan hubungan.
“Maka saya selalu datang untuk gadain barang seperti emas dan sebagainya,” katanya Kamis (25/9/2025) siang saat ditemui di rumahnya di RT 35/RW 04.
Dengan merasakan manisnya program itu, maka ia berpikir untuk menjadi Agen Gadai di bawah naungan PT Pegadaian. Karena itu bisa membantu masyarakat pelosok memecahkan masalah. Walaupun uang bukanlah segalanya, tetapi segalanya butuh uang.
“Dari situ ada tetangga yang bilang butuh pinjaman, tapi saya anjurin ke Pegadaian. Karena mereka banyak yang bekerja, jadi pada nitip ke saya,” jelas perempuan kelahiran 1979 itu.
Akhirnya, pada tahun 2019, ia memilih menjadi Agen Gadai. Ia membuka akses bagi warga untuk mendapatkan dana melalui layanan gadai tanpa harus jauh-jauh ke kantor Pegadaian yang terletak di Kota Kepanjen.
Cerita-cerita yang mampir ke meja Ita, itu menggambarkan betapa pentingnya posisi agen dalam menggantung harap bagi warga. Bahkan, sempat satu orang, langsung meminjam uang sebesar Rp 76 juta. Ada juga yang datang meringik untuk dicairkan uangnya karena darurat, padahal bukan jam kerja.
“Karena saya kenal walau bukan jam kerja, saya cairkan pakai uang pribadi. Yang penting jaminan emasnya ada,” katanya.
Cuma, tidak semua orang ia cairkan. Tergantung kedekatan emosional dengannya yang bisa ia cairkan. Sikap itulah membuatnya kerap disebut penolong. Karena ini bukan soal komisinya, tetapi sikap saling tolong menolong kepada sesama manusia yang ditanamkan Ita patut diacungi jempol.
“Maka, disitulah dilema seorang agen teruji. Di satu sisi ingin menolong, di sisi lain kita terikat aturan. Yang paling kasian, jika ada ibu-ibu datang untuk membayar sekolah anaknya, atau membayar biaya rumah sakit,” katanya.
“Cuma sekali lagi, saya tetap berpegang teguh pada aturan dan ketentuan. Saya tidak berani membantu terlalu jauh jika orang itu benar-benar sudah kenal dekat,” lanjutnya.
Selain menerima gadai, Ita juga menerima layanan tabungan emas. Jika ada nasabah yang kebingungan terkhusus pengoperasian tabungan emas digital, maka ia datang ke rumahnya.
“Tidak hanya tabungan emas, jika ada yang ingin gadai tapi dia tidak bisa datang ke rumah, saya datangi. Artinya saya juga jemput bola,” jelasnya.
Dengan begitu, sesuai tema Pegadaian mengEMASkan Indonesia, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan Pengadaian. Sebab, manfaat transaksi di Pegadaian bagi nasabah adalah, mendapatkan dana tunai cepat dengan proses yang sederhana dan aman. Kemudian menghindari bunga rentenir yang tinggi, serta aman dari penipuan.
“Harapan saya untuk kedepanya semoga Pegadaian semakin jaya dan omset semakin melesat naik dan masyarakat tetap pilih Pengadaian” pungkasnya. (ume/nif).
