Hukum  

Mahasiswa Yogyakarta Ikut Demo Sampai Tewas, Kok Bisa?

mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, meninggal dunia usai terjadi kericuhan di sekitar Polda DIY. (Foto: istimewa)
mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, meninggal dunia usai terjadi kericuhan di sekitar Polda DIY. (Foto: istimewa)

MEMOX.CO.ID Gelombang aksi unjuk rasa yang terjadi sejak akhir Agustus lalu berubah mencemaskan setelah diwarnai aksi penjarahan terhadap sejumlah rumah milik pejabat negara dan bentrokan keras antara massa dan aparat keamanan. Para pakar menilai situasi kacau ini merupakan buah dari arogansi pejabat dan kevakuman kepemimpinan yang berpotensi membawa negara pada krisis multidimensi.

Kekhawatiran itu semakin nyata setelah bentrokan di Yogyakarta pada Minggu (31/08) dinihari merenggut nyawa seorang mahasiswa. Rheza Sendy Pratama (21), mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta, meninggal dunia usai terjadi kericuhan di sekitar Polda DIY.

Ayah korban, Yoyon Surono, menyatakan putranya tewas dalam kondisi yang memprihatinkan. “Dia tewas dalam keadaan babak belur,” ujarnya dengan pilu.

Yang semakin menyayat hati, Yoyon mengungkapkan bahwa pada saat mengambil jenazah putranya di rumah sakit, pihak keluarga dipaksa untuk menandatangani sebuah surat pernyataan. Isinya menyatakan bahwa keluarga menerima kejadian tersebut sebagai “murni musibah” dan “tidak akan menuntut kepada pihak mana pun.”

“Dia tewas dalam keadaan babak belur… Kami dipaksa menandatangani surat pernyataan bahwa ini murni musibah dan kami tidak akan menuntut.”

— Yoyon Surono, Ayah Almarhum Rheza

Insiden berdarah ini menjadi titik puncak dari rentetan ketegangan yang terjadi selama dua hari tersebut. Aksi penjarahan yang menyasar rumah-rumah pejabat terjadi secara beruntun, sementara bentrokan antara massa yang marah dan aparat yang berusaha meredam terus berkecamuk di beberapa titik.

Para pengamat politik dan sosial menyoroti bahwa akar masalah dari semua kerusuhan ini adalah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak aspiratif dan sikap arogan para pejabatnya. Mereka mengingatkan bahwa situasi yang tidak terkendali dan dipenuhi amuk massa ini sangat mirip dengan kondisi yang melatarbelakangi krisis besar tahun 1998.

Kematian Rheza Sendy Pratama diperkirakan akan menjadi pemantik bagi aksi-aksi protes yang lebih besar. Masyarakatakat dan kalangan kampus menuntut investigasi yang transparan dan independen atas kematiannya, serta menolak wacana bahwa insiden tersebut hanyalah sebuah “musibah” belaka.

Desakan untuk pemerintah agar segera menunjuk kepemimpinan yang lebih responsif dan mendengarkan suara rakyat semakin keras terdengar, guna mencegah negara terjerumus lebih dalam into chaos yang tidak diinginkan bersama. (Crs)