Dunia Pendidikan Tak Butuh Otak Cerdas

Surabaya, Memo X
Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya mewisuda 553 lulusan program D3, S1, dan S2 di Dyandra Convention Center Surabaya, Minggu (7/4) Prosesi wisuda kampus Unitomo kali ini spesial seirinh hadirnya Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD. Mahfud menyampaikan orasi dengan tema Harmoni Kebangsaan dengan NKRI.
Dalam orasinya Mahfud menyatakan dunia pendidikan Indonesia bukan hanya untuk otak, karena di dalam UUD 1945 disebutkan jika pendidikan itu untuk mencerdaskan kehidupan bukan mencerdaskan otak.
Ia menyebut, pada alenia empat pembukaan yang berbunyi melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa. “Bukan mencerdaskan otak,” tandasnya.
Kata dia, faktanya seorang sarjana tak selalu jadi cendekiawan, karena menurutnya sarjana itu orang yang punya ijazah dengan ukuran-ukuran tertentu, “bahwa sarjana SI ekonomi keahlihannya ilmu yang dikuasai ini. Kalau S2 ini, hukum ini,” jelasnya.
Mahfud menilai, mencerdaskan otak adalah hal yang tak susah, tetapi jika mencetak watak diiringi dengan otak yang cerdas, itulah tujuan pendidikan Indonesia. Di dalam UUD juga menyebut, pendidikan itu memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi berdasarkan iman dan taqwa akhlaqulkharimah.
“Ilmu pengetahuan itu teknologi dan otak. Iman, akhlak dan taqwa itu watak. Itu di UUD kita. dan rumusan ini tercantum di UUD dan juga di UU pendidikan juga yang buat uu itu presiden dan DPR yang turut merumuskan kelembagaan,” jelas Mahfud.
Mahfud melihat banyak sarjana, doktor hingga profesor yang mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup banyak tetapi tidak cendekiawan. Dan akhirnya orang-orang seperti itu berakhir di dalam.
“Nah kalau di dalam agama orang yang punya otak dan watak itulah yang disebut ulul albab. Ulul albab itu mereka selalu berfikir kepada Allah. Watak dulu akhlak dulu lalu berfikir otaknya. Kalau konsep Al-Quran itu seperti itu. Dan itu yang bisa mencerdaskan kehidupan,” katanya.
Untuk itu, lanjut Mahfud, di dalam kehidupan di tengah masyarakat nanti sarjana harus memiliki minimal dua pedoman untuk mengembangkan ilmu yang akan mereka amalkan.
Pertama, ia mengibaratkan metodologi itu seperti halnya kolam atau tulis, akan tetapi tapi ada campuran ayatnya, dengan dikatakan Allah mengajarkan kepada manusia fakta-fakta yang tidak ada ilmunya.
“Misal, Rumah Sakit dr Soetomo Surabaya itu punya pasien yang sekarang masih hidup namanya Siti Nur Sa’ada dari Samarinda. Itu tubuhnya itu selalu keluar kawat sampai sekarang. Sehingga setiap dibawah ke RS digunting kawat itu, lah itu kok tidak mati? Itulah allamalinsaannamallamya’lam,” ceritanya.
Menurutnya, wisudawan punya ilmu harus dikombinasikan antara akal dan hati. “Itu yang akan menyebabkan saudara secara menyadari bahwa hidup ini tidak akan lepas dari kekuatan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa,” tambahnya.
Kedua, ketika keluar dari ruangan ini ia mengatakan, hubungan dengan akademis antara mahasiswa dan akademik sudah selesai. Setelah itu mereka akan masuk ke tengah-tengah masyarakat yang merupakan laboratorium sesungguhnya dari kehidupan itu sendiri. “Itulah laboratorium kehidupan,” imbuhnya
Sementara itu, Rektor Unitomo Bachrul Amiq menyampaikan pesan tentang perlunya para wisudawan untuk terus meningkatkan kompetensi agar bisa bersaing di dunia kerja. “Kepada para wisudawan, kami mengucapkan Selamat dan Sukses. Segala ujian yang telah Saudara tempuh belum berarti apa-apa. Karena ujian yang sebenarnya adalah ujian yang ada di masyarakat,” harapnya.
Meski begitu, ke depannya Amiq akan terus berupaya untuk meningkatkan kompetensi dari berbagai bidang. “Di bidang apa pun nanti Anda akan berkiprah, meningkatkan kompetensi harus menjadi ikhtiar anda sepanjang hidup,” pungkansya.
Sementara itu Ketua LLDIKTI VII Jatim Soeprapto mengungkapkan presentasi tingkat kelulusan pendidikan tinggi di Indonesia dan negara asing. Ia menyebut Indonesia naik sekitar 34 persen, Malaysia 38 persen, Singapuran 83 persen, Korea 98,3 persen.
“Jika disimpulkan angka-angka tadi menandakan bahwa masyarakat Indonesia masih belum banyak mengenyam pendidikan tinggi. Insyaallah dari tahun ke tahun akan bertambah, tapi saya sangat bangga bahwa Unitomo sudah menyumbang 553 orang,” urainya.
Pemerintah melalui LLDIKTIK Wilayah VII menyampaikan terimakasih kepada Unitomo, karena bukan hanya menambah jumlah tetapi juga meningkatkan kompetensi dari lulusan Unitomo.
Menjelang akhir sambutan ia berpesan, saat ini generasi muda mengantisipasi adanya revolusi 4.0. Ia mengingatkan ada 4 poin C yang harus didalami. C yang pertama kata dia, sebagai softskill yang bernama Critical Thingking. Berfikiri kritis supaya bisa melaju dengan bagus dan baik disamping masyarakat. C yang kedua adalah creative, menurutnya menjadi sarjana juga harus kreatif dan jangan hanya punya kemampuan dibidang masing-masing.
“Yang ketiga kita harus tingkatkan supaya sukses buka hanya di Indonesia tetapi harus berjuang melawan negara-negara lain. Keempat adalah colaboration, jangan hanya kemampuan dibidang kuliah saja tetapi harus mampu mengkolaborasikan kemampuan yang anda miliki,” tutupnya. (sur/ano/jun)