Pamekasan, Memox.co.id – Mudani, salah satu warga Pamekasan menjadi satu-satunya atlet tenis meja golongan disabilitas dari tingkat nasional hingga internasional. Pria asal Pademawu Barat itu memulai karirnya sejak tahun 91, hingga pada tahun 2008 torehan juara dia dapatkan dari ajang nasional hingga internasional dengan perolehan medali emas.
Tidak cukup sampai disitu, pada tahun 2009 dirinya berhasil menjuarai di Thailand dengan torehan Medali Emas single dobel.
“2009 saya di Thailand mendapatkan mas single dobel dengan teman saya orang Maluku,” ungkapnya, Senin (19/12/22).
Pada tahun 2015 di Singapura mendapatkan juara perak, begitu pula di Myanmar. Dirinya menceritakan, sebuah penyesalan menjadi atlet internasional lantaran tidak pernah ada sentuhan pemerintah untuk memberikan support. Kalau dihitung ada 22 medali, bahkan piagamnya seperti bungkus kacang. Sayangnya dari pemerintah tidak ada sentuhan sama sekali.
Mengakhiri karirnya, pada tahun 2015 di Singapura dengan mendapatkan juara perak dan di Myanmar.
“Maka dari itu saya mengeluh jadi atlet internasional kayak seperti saya ini. Mungkin mereka anggap gampang jadi atlet, tidak hanya perjuangannya sulit, biaya besar juga. Maka dari itu kalau melihat dari medali itu kayaknya tidak sepantasnya jadi Atlet Internasional karena sama sekali tidak ada perhatian dari pemerintah setempat atau dari mana saja, gak ada,” ujarnya.
Pria dengan usia 54 tahun itu itu tertarik dengan tenis meja sejak tahun 91. Dalam tingkat Jawa Timur dirinya selalu menjadi juara satu, hingga akhirnya mengikuti seleksi nasional di Solo.
