14 Orang di Bondowoso Terpapar Covid-19 dari Klaster Hajatan

Kepala Dinkes didampingi Sekretaris. (sam)

Bondowoso, Memox.co.id – Karena mengabaikan Protokol Kesehatan (Prokes) 14 warga Desa Bandelan Dusun Pal 9, Kecamatan Binakal terpapar Covid-19. Mereka terpapar usai menggelar hajatan pernikahan. Klaster baru ini menjadi perhatian serius Pemkab Bondowoso.

Dari 14 orang yang terserang Virus Corona, 13 orang Dusun Pal 9 Kecamatan Binakal dan satunya berasal dari desa tetangga, Desa Sumbertengah. Kini ke-4 orang tersebut diisolasi. Secara terperinci, 5 dari 14 korban merupakan anggota keluarga tuan rumah.

Sebelumnya yang diketahui terpapar 4 warga. Hasil Swab PCR 10 korban lainnya baru keluar Senin (7/6/2021) kemarin. Menurut Satgas Covi- 19 Kecamatan Binakal, penyelenggara tidak mengajukan izin atau memberitahu akan melakukan hajatan. Padahal, kegiatan tersebut menimbulkan kerumunan.

Baca juga: Bisnis Tape Bondowoso Kian Memprihatinkan

Menanggapi hal itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Bondowoso, dr. H. Mohammad Imron, MMKes mengatakan, setelah Hari Raya Idul Fitri, ada peningkatan kasus Corona. Baik suspek, positif bahkan ada juga kasus aktif. Namun tidak drastis seperti daerah lain. “Peningkatan kasus yang terjadi di Kecamatan Binakal, berasal dari klaster kegiatan masyarakat, yaitu kegiatan hajatan,” kata Imron, sapaannya, Selasa (8/6/2021).

Kasus tersebut berasal dari rumah pelaksana hajatan. Namun pihaknya belum bisa memastikan asal virus tersebut. Sebab dari hasil tracing terhadap warga terpapar, tidak ada yang bepergian ke luar kota. “Kita tidak tahu, mungkin saja korban kedatangan tamu sanak saudaranya dari luar kota. Pertama kali ditemukannya kasus tersebut, ada keluarga penggelar hajatan yang sakit,” jelasnya.

Sakitnya, kata Imron gejala batuk dan pilek. Setelah dirapid antigen dan swab PCR, hasilnya positif Covid-19. Itu terjadi saat persiapan acara hajatan. Setelah hajatan, ada warga Desa Sumber Tengah positif dan diundang pada acara hajatan. Disamping itu ditemukan juga guru TK sakit. Hasil rapid antigen reaktif dan Swab PCR positif. Guru tersebut meninggal dunia karena mengidap komorbid dan usianya sudah 50 tahun lebih. (sam/mzm)