Program Pertukaran Mahasiswa
Surabaya, Memo X
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas Surabaya kembali mendelegasikan mahasiswa dan dosen ke luar negeri, untuk meningkatkan program kerjasama internasional. Ada 13 mahasiswa serta empat dosen yang terbang ke Philipina melalui program International Office yang menjadi bagian Student and Lecturer Exchange Program.
Mereka yang bertolak pada Rabu (3/4), di antaranya dikirim ke Mountain Province State Polytecnic College (MPSPC) Philippines. Mereka, Tutut Rohmatul Ummah, Anisa Kurnia Aprilia, Sarah Lutfiyah Nugraha, Novian Navas Mahardhika, Abi Darin Widodo, Putri Permatasari Akhwan, Inggarr Wilujeng, Shania Ayanda Nur, Ponta Dewa Saktiawan, Cornelia Oribel, Ranti Widiastuti, Wicaksono Bagus, dan Bayu Hartarto Syafii. Sementara, keempat dosen yang akan diberangkatkan, yaitu Djuwari, Luciana Spica Almilia, Muazaroh dan Rovila El Maghviroh. “Disini, STIE Perbanas memberi pengalaman kepada mahasiswa belajar di luar negeri, berinteraksi dengan mahasiswa dan masyarakat Philipina. Ketika mahasiswa jadi duta kampus disana akan belajar akademik disana dan mempromosikan Indonesia dari segi kemampuan, bahasa, dan budaya yang kita miliki. Budaya tentang keseharian disini dibawa ke Philipina. Biar ada pertukaran budaya,” jelas Ketua STIE Perbanas Surabaya, Yudi Sutarso saat ditemui di ruang Auditorium, Selasa (2/4).
Yudi mengungkapkan, jika dalam pemilihan negara yang akan dilakukan study exchange tidak hanya dari pihak saja. Melainkan mahasiswa juga bisa menyampaikan keinginannya untuk memilih negara, setelah itu akan dikaji ulang oleh kampus.
Dengan adanya study exchange ini, Ketua STIE Perbanas berpesan kepada mahasiswa, sebelum lulus harus ke luar negeri dulu. Karena mahasiswa akan memiliki wawasan yang lebih luas mengenai negara asing, dan otomatis akan dijadikan pembelajaran untuk perbandingan negara. “Jangan lulus kalau belum ke luar negeri. Untuk itu kita buat program yang beragam. Mulai dari tingkat nasional sampai internasional. Supaya mahasiswa bisa global. Karena pengalaman dari mahasiswa yang setelah study exchange memiliki wawasan yang lebih luas,” harapnya.
Sementara itu, Bayu Harsyaf, (20), mahasiswa semester 6 membawa persiapan riset penelitian untuk presentasi saat di Philipina. Selain itu juga membawa budaya, dan lifestyle di Indonesia. “Disana kita terapkan soft skill Indonesia ke Philipina, bagaimana mereka menerima jawaban, taat waktu, dan sifat disiplin Indonesia. Kita juga rencana membawa tari kontemporer percampuran musik dari koreo, real buatan Indonesia,” kata dia.
Ia juga membawa batik asli dari Kota Pahlawan yang disponsori oleh desainer Surabaya. Namun bukan batik Surabaya, melainkan batik yang dibuat sendiri. “Lebih ke estetika keindahan yang sifatnya nasional. Biasanya batik d kenal ke formalnya, tapi kita lebih ke fashionable,” pungkasnya. (est/ano)
