MEMOX.CO.ID – Hampir setiap rumah memiliki barang bekas yang sudah tak terpakai. Tak jarang, barang bekas tersebut langsung dibuang karena sudah tidak berfungsi dengan baik. Padahal, barang tersebut bisa menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat jika kita mau meluangkan waktu dan kreativitas. Salah satu barang tersebut adalah ban bekas.
Ban bekas memang termasuk limbah yang sulit terurai, namun anda dapat mengubahnya menjadi benda yang bermanfaat dan bernilai tinggi. Selain itu, mengolah kembali limbah ban bekas juga membantu mengurangi sampah sehingga lebih ramah lingkungan. Seperti yang dilakukan oleh Supriatna (58) warga Kelurahan Kepanjen Kabupaten Malang.
Ketika Memo X bertandang ke rumahnya beberapa waktu lalu. Meski rambut ayah dari 2 anak itu sudah hampir memutih dan kulitnya pun juga terlihat keriput, namun semangat berkreatifitasnya masih sangat tinggi. Maklum, ia memang dilahirkan dari keluarga seniman. Ayahnya seorang musisi lokal, dan sang ibu dulu juga sebagai seorang pelukis.
Sedang Supriatna sendiri, kini mempunyai inovasi kesenian membuat replika berbagai binatang berbahan ban sepeda motor bekas. Inovasinya itu pun akhirnya banyak menarik peminat, hingga menghasilkan pundi-pundi rupiah melampaui harga ban motor itu sendiri.
Ada banyak hewan yang direplika oleh Supriatna dari ban bekas itu. Seperti replika dinosaurus, macan, burung gagak, ayam, penyu, dan buaya. Mulai ukuran kecil hingga berukuran 7 meter.
Ban-ban sepeda motor bekas itu dipotong-potong sesuai kebutuhan, lalu ditempel-tempel, direkatkan dengan baut, dan dibentuk sesuai bentuk replika yang diinginkan.
Didalam tempelan karet ban yang telah dipotong dan ditempel itu diisi paralon plastik, sebagai tempat penempelan karet ban. Kemudian dicat sesuai warna asli jenis binatang. Beberapa hasil kreatifitasnya itu dipajang di depan rumahnya, dan sebagian lainnya sudah dipesan orang sebagai pajangan.
“Mayoritas orang yang memesan untuk dipajang di spot wisata buatan. Ada yang di Kalimatan Tengah dan Gresik,” ungkap Supriatna saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu.
Replika-replika itu dipatok harga bervariasi. Mulai dari harga termurah senilai Rp 500 ribu untuk yang berukuran kecil, hingga Rp 4 juta untuk replika yang berukuran besar.
“Ukuran terbesar pernah saya buat untuk wisata buatan di Kalimatan Selatan. Replika Dinosaurus sepanjang 7 meter,” ujarnya.
Dikatakan dia, ide membuat inovasi replika binatang bermula dari keresahan pribadinya melihat tumpukan sampah ban bekas pada 2015 lalu, saat pihaknya masih menjadi pengurus Tempat Pengolahan Sampah Reduce – Reuse – Recycle (TPS3R) Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen.
“Waktu itu ban menumpuk. Akhirnya saya putar otak bagaimana caranya agar tumpukan sampah ban sepeda motor bekas itu bisa bermanfaat dan lebih bernilai,” ujarnya.
Akhirnya Supriatna mulai mengotak-atik ban bekas itu, mengkonsep dan membentuk menjadi replika binatang. Aksi percobaan awal yang dilakukan Supriatna tidak sempurna. Namun, ia tetap konsisten dan melakukan percobaan berulang-ulang, sampai sempurna.
“Meskipun karya awal saya tidak sempurna, namun saya tetap memposting ke media sosial,” terangnya.
Postingannya di media sosial itu pun mendapat respon positif. Sampai akhirnya pada tahun 2017 beberapa orang mulai memesan karyanya.
“Saat ini, saya sudah tidak menjadi pengurus TPS3R, dan mata pencaharian utama saya dari replika ini,” tuturnya. Sementara itu, bahan ban bekas, Ia mendapatkan dari membeli dari bengkel-bengkel terdekat.
“Setiap satu ban bekas harganya senilai Rp 1.500 per biji,” pungkasnya. (sur/jun)
