Jember, Memox.co.id – Warga Perumahan Puri Antirogo sebelumnya resah dengan ketiadaan mushala atau masjid di lingkungan komplek perumahan mereka. Ternyata warga Perum ini juga tidak ada lokasi pemakaman bagi warga dan juga tidak ada pagar pembatas antara perumahan dengan sungai Bedadung sisi barat lokasi perumahan.
“Yang kita lakukan itu menagih janji dari pihak developer (pengembang) perumahan. Karena itu janji dari perusahaan, dan alasan kita beli rumah di sana. Karena dijanjikan akan dibangun, baik itu fasum Mushala atau masjid, lokasi pemakaman, dan fasum-fasum lainnya. Juga pagar pembatas perumahan dengan sungai. Apa salah kita warga menagih janji itu,” kata Antok Ramadhan, salah satu warga saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (14/4/2021).
Antok juga menambahkan, terkait dampak banjir beberapa waktu lalu. Akibat luapan aliran Sungai Bedadung. Juga dirasakan dampaknya oleh warga.”Yang kala itu banjir genangannya merendam dua rumah warga yang dekat sungai. Juga merobohkan plengsengan yang ada. Kita berharap itu diperhatikan dan ada perbaikan,” ujarnya.
Sementara itu, menyikapi persoalan warga tersebut Wakil Bupati Jember, Muhammad Balya Firjaun Barlaman mengaku akan mengambil tindakan cepat sebagai tindak lanjut persoalan ketiadaan Mushala dan Masjid yang dialami warga.
“Saya baru tahu ini. Segera kita koordinasikan dengan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) terkait, agar pengembang memperhatikan kewajiban-kewajibannya,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Firjaun ini saat dikonfirmasi melalui percakapan Whatsapp nya.
Terpisah, pihak pengembang perumahan PT. Tenang Jaya Putra (TJP) saat dikonfirmasi melalui perwakilan Admin Lapangan Sucipto mengatakan, pihaknya dalam waktu dekat akan membangun masjid sesuai dengan yang diinginkan warga di Perumahan Puri Antirogo itu. “Posisinya di tengah, luas masjid untuk bangunan induk kira-kira 15×15 meter. Kemudian luas keseluruhan lahan, kurang lebih 35×35 meter. Karena tidak hanya bangunan induk, tapi ada fasilitas lain, teras atau yang lain, lahan parkir,” katanya.
Kata Sucipto, karena pihak warga dinilai terlalu banyak menuntut. Padahal dari warga sendiri, kurang adanya kepedulian terhadap lingkungan.
“Sebenarnya kalau dari perumahan sudah banyak berbuat (penuhi pengelolaan perumahan), etika baik kita lakukan termasuk saluran pembersihan, pembuangan sempurna. Tapi dari warga juga harus paham, depan rumahnya sendiri tidak dibersihkan. PT ini sudah baik-baik kita layani. Untuk masjid sudah kita kerjakan, PT kerjaannya banyak, kan PRnya banyak, ada packing jalan (perbaikan jalan), harusnya warga terima kasih,” ujarnya. (ark/tog/mzm)
