MEMOX.CO.ID – Dayinta Raras Apsari (20), sosok muda asli kelahiran Kota Probolinggo yang berjuluk “Angin, Anggur, dan Mangga (Bayuangga) menunjukkan kepedulian dalam upayanya melestarikan serta mempromosikan seniman lokal.
Mahasiswa Semester IV Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Malang bersama tiga rekannya melakukan berbagai cara, mulai dari menciptakan karya seni yang terinspirasi dari budaya lokal, mengikuti pameran, hingga aktif terlibat dalam komunitas seni guna menjaga keberlangsungan warisan budaya.
“Dulu, sebuah karya seni lahir proses panjang dari kegelisahan, rasa, dan ketekunan. Kini, cukup satu baris prompt, dan gambar jadi. Tak perlu lagi peluh, tak perlu lagi jiwa. Semuanya serba instan. Cepat, murah, dan efisien,” ujar Raras panggilan akrabnya, Minggu (1/6/2025).
Lebih rinci, Raras mengatakan apakah itu masih layak disebut seni. Apalagi ketika yang tersisa hanyalah hasil, tanpa cerita di baliknya, tanpa tangan yang meraba setiap garis, tanpa hati yang bicara lewat warna.
Apalagi yang lebih menyakitkan, para seniman lokal bertahun-tahun belajar merangkai makna lewat goresan justru terpinggirkan. Pemerintah yang seharusnya menjadi pelindung dan pendorong, justru ikut-ikutan memamerkan karya dari mesin, dan mengajak rakyatnya untuk melakukan hal yang sama.
“Seolah kreativitas bisa dibeli murah, dan proses bisa diabaikan begitu saja. Apakah mereka benar-benar tak melihat sekelilingnya, masih banyak seniman yang hidup dari mimpi dan idealismenya,”tandasnya.
Inilah kenyataan yang getir, ketika para seniman dilupakan, dan prompt diagungkan. Bahkan, terlalu tergiur oleh yang cepat dan mudah, sampai lupa bahwa seni bukan soal hasil tapi tentang manusia yang menciptakannya.
“Seni merupakan perasaan yang dituangkan, dan suara yang ingin disampaikan. Jika semua bisa digantikan mesin, lalu di mana tempat bagi jiwa dalam karya,”tutur Raras.
Kedepan, Raras berharap membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat. Dukungan dan perhatian terhadap seniman-seniman lokal, pengembangan lembaga atau komunitas yang peduli menjadi langkah awal.
Selain itu, pendidikan dan kesadaran juga perlu ditanamkan sejak usia dini. Sehingga menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia.
“Anak muda harus turut berperan dalam memperkuat identitas budaya sendiri, serta melestarikan dan mewariskan kekayaan budaya ini kepada generasi mendatang. Jangan sampai seniman lokal dilupakan, justru prompt yang diagungkan,”pungkas Raras.(hud/syn)
