Resign dari Kerjaan, Buka Usaha Warung Pecel

252
0

Kisah Sarwono, Penjual Pecel di Blitar

Blitar, Memox.co.id – Di mana hatimu berada disanalah hartamu terletak. Itulah kata yang tepat disandangkan kepada Sarwono (49), warga Tegalrejo, Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar ini. Betapa tidak, mengundurkan diri dari perusahaan benih jagung karena sakit jantung, namun masih berusaha keras usaha lainnya. Seperti apakah usahanya?….

Pagi itu, Sarwono tengah sibuk melayani pelanggannya di warung pecel. Namun siapa sangka warung pecel yang banyak dijubeli pelanggan itu berasal dari sebuah kenekatan setelah keluar dari pekerjaan lamanya.

Sarwono yang didampingi istrinya, Fadhilatun Nikmah.

Ia menceritakan, pernah bekerja di perusahaan yang terbilang besar dengan gaji pasti yang diterima setiap bulan. “Sekitar tahun 2012 saya keluar dari pekerjaan (resign, red) karena mendapat vonis dokter sakit jantung. Nah, dari setahun kemudian saya memulai pekerjaan baru yang saya tekuni sampai sekarang,” kata Sarwono yang didampingi Fadhilatun Nikmah, sang istri.

Sarwono mengaku sampai saat ini masih dalam perawatan dokter. “Secara berkala saya masih melakukan kontrol ke dokter. Meski demikian saya tetap optimis bahwa usaha tidak boleh berhenti,” tukas bapak yang mempunyai dua anak ini.

Kenapa beralih ke usaha warung pecel? Sarwono katakan beralih ke usaha kuliner ini karena meneruskan usaha kedua orang tuanya. Juga merupakan cita-cita sang istri yang ingin mempunyai usaha secara mandiri.

Resep ini dulunya ia pelajari dari kedua orang tuanya, Slamet dan Supiyah yang dulunya memiliki warung pecel yang sangat terkenal seantero Blitar Raya. Namun sayangnya usaha kedua orang tuanya ini sudah tutup sejak tahun 2010 lalu.

Dengan memanfaatkan lahan yang ada dipinggir sawah milik saudaranya. Ia beserta istri tiap harinya mulai berjualan nasi pecel dari jam 06.00 pagi. “Setelah resign dari kerjaan, juga sambil menjalani pengobatan, buka warung disini. Itu juga merupakan cita-cita istri karena brand nasi pecel Papungan tidak ada yang meneruskan,” terang anak ke 6 dari 8 bersaudara ini.

Bumbu pecel racikan Sarwono ini mempunyai citarasa yang khas karena bahanya lengkap. “Bedanya di Blitar ada kencur untuk daerah lain biasanya tidak memakai kencur. Gurihnya diambil dari kacang, bawang putih, daun jeruk purut diseimbangkan dengan rasa dari kencur, asam dan garam,” terang dia.

Proses pembuatan bumbu pecel ini pada umumnya hampir sama dengan lainnya, hanya untuk menjaga citarasa dan agar lebih awet, Wono panggilan akrab Sarwono, menggoreng kacangnya di kreweng (wajan terbuat dari tanah liat) tanpa menggunakan minyak.

“Kacang digoreng tanpa minyak, setelah itu ditambah cabai, gula merah, bawang putih, jeruk purut, kencur asam jawa dan garam secukupnya. Semua bahan digiling, setelahnya ditumbuk di lumpang biar menyatu rasanya,” urainya.

Pecel Blitar terkenal memiliki citarasa yang berbeda dibandingkan dengan pecel dari daerah lain. Sebagaimana yang ada di warung pecel milik Sarwono ini. Hanya dengan Rp 6 ribu saja pembeli bisa menikmati seporsi nasi pecel komplit. Disajikan diatas daun pisang isiannya ada nasi hangat, bayam, kecambah, kemangi dan mentimun lalu disiram dengan bumbu sambal kacang buatan sendiri dengan ditambah lauk pauk berupa rempeyek, tahu dan tempe, sangat pas sebagai menu sarapan pagi.

Nasi pecel dan juga bumbu sambal pecel yang dijajakan oleh Sarwono.

Kini selain berjualan nasi pecel Wono juga mulai menjajakan bumbu sambal pecel buatannya dengan menggandeng relawan Kampoeng Moedjair. “Untuk pemasaran bumbu sambel pecel saat ini menggunakan brand Kampoeng Moedjair. Baru dijajakan via medsos,” tukasnya.

Ingin mencoba pecel buatan keluarga Sarwono langsung saja menuju Pasar Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Blitar. Di depan pasar ada warung sederhana milik Sarwono menjajakan menu nasi pecel yang sangat nikmat dengan harga terjangkau pastinya. (red)