Malang, MEMOX.CO.ID – Sampai saat ini DPP PDI Perjuangan belum menurunkan surat tugas dan surat rekomendasi untuk bakal calon Walikota (Bacawali) Malang. Hal itu menjadikan para pelamar Bacawali ke PDIP gundah gulana. Disisi lain memunculkan peluang bagi Sutiaji untuk head to head dengan mantan kopatriotnya Muhammad Anton atau Abah Anton yang mencalonkan diri lewat PKB.
Bisa jadi Sutiaji akan mendapatkan rejeki nomplok yaitu langsung mendapatkan surat tugas sekaligus surat rekomendasi dari PDIP. Sutiaji bisa langsung berpasangan lagi dengan Sofyan Edi Jarwoko (Golkar). Sedangkan Abah Anton akan berpasangan dengan Ali Mutohirin (PSI).
“Memang pada Pilkada serentak tahun 2024 PDIP tampil beda. PDIP rupanya ingin tampil sendiri atau tak mau berkoalisi. Mungkin atas dasar itu hingga kini tak satupun Bacawali Kota Malang yang melamar ke PDIP maupun kader internalnya sudah mendapatkan surat tugas dari DPP PDIP,” ungkap pengamat politik Kota Malang, Prayogi.
Salah satu Bacawali Kota Malang yang melamar ke PDIP, Abdul Aziz menyatakan, saat ini yang dibutuhkan adalah surat tugas dari DPP PDIP. Dengan adanya surat tugas itu bisa dijadikan pedoman untuk membangun komunikasi politik dengan Parpol diluar PDIP termasuk menjaring dukungan masyarakat.
“Kita butuh legal standing. Tanpa ada kepastian surat tugas dari partai kita tidak bisa berbuat apa-apa. Orang Jawa mengatakan ewuh pa kewuh (serba salah, red). Tapi kita juga tidak bisa menekan DPP PDIP,” kata Azis dalam youtube memox.co.id, kemarin.
Aziz berharap keterlambatan turunnya surat rekomendasi dari DPP PDIP bukan karena gonjang-ganjing bacagub Jatim yang hingga juga belum ditentukan sosoknya. Kata Azis, Pilpres dan Pilkada beda situasinya.
Saat Pilkada PDIP bisa tampil lebih percaya diri. Lantaran calonnya tingkat lokal dan mengetahui karakteristik daerahnya masing-masing.
“PDIP adalah petarung. Orang-orangnya tak kenal bersantai ria. Kasih kesempatan pada kami dan kader internal partai. Kita akan buktikan bahwa kita mampu untuk melaksanakan tugas partai. Beri kami terget waktu 3 x 24 jam. Setelahnya silahkan dievaluasi. Kalau tidak puas dengan kerja kami silahkan diberi keputusan,” ungkap Azis.
Lebih lanjut diterangkan, sudah melakukan komunikasi politik dengan pengurus DPC PDIP Kota Malang, DPD PDIP Jatim dan DPP PDIP di Jakarta. Tapi lagi-lagi komunikasi politik itu mental ditengah jalan. Lantaran keputusan soal surat rekomendasi ditangan Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri.
“Kalau surat rekomendasinya turun mendekati jadwal pendaftaran ke KPU, jelas sangat susah bagi Cawalinya. Karena jadwal kampanye sangat mepet. Beda lagi kalau surat tugas dan surat rekomendasi sudah ditangan kita sekarang. Waktu sosialisasi kemasyarakat masih panjang. Kalau semacam ini kita khawatir akan menguntungkan salah satu pihak saja,” urainya.
Sebagai tambahan informasi, calon petahana M Sanusi kembali mendapatkan panggilan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Namun panggilan itu bukanlah sebuah kabar gembira bahwa ia bakal mendapatkan rekom untuk maju kembali sebagai calon Bupati Malang.
Namun panggilan itu hanyalah pembekalan dalam rangka strategis pemenangan Pilkada serentak 2024 yang dilakukan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Jawa Timur (Jatim), Rabu (7/8/2024) di Harris Hotel, Blimbing Kota Malang.
Sanusi mengatakan, hingga saat ini dirinya mengaku belum menerima rekom tersebut. Namun, kalau penugasan dari partai berlambang banteng dengan moncong putih itu sudah lama ia pegang.
“Kalau rekom belum. Rekom itu nanti,” katanya Selasa (6/8/2024).
siapa yang akan diusung PDIP pada Pilkada 2024 di Kabupaten Malang
Sehingga, siapa yang akan diusung PDIP pada Pilkada 2024 di Kabupaten Malang hingga saat ini masih menjadi misteri. Namun dalam rapat dengan ketua DPD PDIP Jatim Said Abdullah, pada Kamis (1/7/2024) lalu, secara verbal memang nama Sanusi-Lathifah (SaLaf) disepakati untuk diusung kembali pada pesta demokrasi November mendatang.
Sanusi menambahkan, besok (Rabu), dirinya hanya datang sebagai undangan untuk dibekali agar nanti kolaborasi dengan calon DPRD Provinsi dan kabupaten. Dan agenda tersebut adalah agenda DPD Jatim.
“Saya hanya sebagai undangan,” ujarnya.
Lantas, akankah koalisi Bangjo (PDIP-PKB) akan terjalin? dan akankah bisa bersama pada Pilkada 2024?, hal itu tentu menunggu PDIP. Jika PDIP merekomendasikan Sanusi-Lathifah, maka dimungkinkan akan terjalin.
Bahkan, PKB kabarnya sudah mengatur strategi jadwal untuk memperkenalkan Sanusi dan Lathifah ke 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Hal ini disampaikan langsung oleh Sekretaris DPC PKB Kabupaten Malang, Kuncoro.
“Ini lagi menyusun jadwal (sosialisasi.red). DPC akan mendampingi beliau keliling 33 kecamatan sambil menunggu rekom,” kata Kuncoro saat dikonfirmasi Senin (5/8/2024) kemarin.
Kuncoro melanjutkan, dalam sosialisasi itu, DPC PKB Kabupaten Malang akan menyapa berbagai unsur masyarakat. Mulai dari struktur partai, badan otonom (Banom), relawan, dan juga lintas komunitas.
Namun walaupun begitu, dirinya hingga saat ini belum membentuk tim sukses (Timses) untuk Pilbup 2024. Dan masih terus berkomunikasi dengan partai politik lain seperti PDIP, NasDem, Hanura dan Demokrat.
“Minimal 10 ribu orang. Sosialisasi minggu ketiga diusahakan selesai,” tutupnya. (nif/red/man/cdp).
Pembahasan full video di youtube: Hello Memo X







