Ramadan Jumlah Pendonor Menurun, PMI Optimalkan Jemput Bola Sasar Gereja

Ramadan Jumlah Pendonor Menurun, PMI Optimalkan Jemput Bola Sasar Gereja
Warga datang melakukan donor darah di ruang PMI Kabupaten Malang. (foto:nif)

MEMOX.CO.ID – Kebutuhan darah selama bulan Ramadan tak berkurang tapi jumlah pedonor darah menurun. Karena itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang tengah memaksimalkan upaya jemput bola.

Ketua PMI Kabupaten Malang Jajuk Rendra Kresna mengatakan, hal itu didasari banyaknya masyarakat yang sedang menjalani ibadah puasa pada siang hari. Kendati demikian, dirinya melakukan jemput bola dan membuka layanan sampai malam hari.

“Selama puasa stok menurun pasti. Tapi tetap layanan. Bahkan setelah tarawih,” katanya belum lama ini saat ditemui.

Sementara itu, Kasubag Unit Donor Darah PMI Kabupaten Malang Tri Rayu Andayani menambahkan, kebutuhan darah di PMI Kabupaten Malang masih normal, yaitu sekitar 300 kantong per hari. Saat ini, stok masih 806 kantong. Karena setiap hari PMI ada kegiatan unuk menopang di bulan puasa.

“Seperti tadi malam ke Desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang dapat 121 kantong, kita mulai jam 18.00 sampai jam 00.00 malam,” katanya.

Siangnya, PMI menyasar gereja-gereja. Katanya, tim datang ke lokasi yang sudah dijadwalkan. Tidak hanya Gereja, para anggota TNI, Polri juga dilakukan donor darah. Artinya untuk mengantisipasi kebutuhan darah.

“Kelompok Gereja kita masuk karena kita harus punya stok tiap bulan. Ada TNI, Polri, komunitas. Jika ditotal di Kabupaten Malang sudah 5000 lebih pendonor,” katanya.

Maka dari itu, ia berharap masyarakat antusias untuk mendonorkan darah. Karena satu tetes darah bisa menyelamatkan orang lain. Sedangkan bagi sisi kesehatan, donor ini banyak sekali manfaatnya.

“Nanti diperiksa misalnya ada virus yang masuk bisa diketahui sehingga pengobatannya bisa lebih ringan. Kemudian tensi kita kan juga selalu di pantau,” katanya.

Saat ditanya jenis darah apa saja yang langka?, ia menyebut darah golongan rhesus negatif. Namun saat ini ada komunitas pendonor rhesus negatif. Sehingga jika ada yang membutuhkan, bisa berkomunikasi di komunitas tersebut. Sehingga bisa tertangani.

“Di Kabupaten Malang dari sekitar 5000 pendonor, yang rhesus negatif hanya 20 orang. Itupun tersebar golongan AB O AB. AB-nya saja cuma satu. Tapi alhamdulilah teman-teman yang punya rhesus negatif itu tidak pernah ngalamin kekurangan darah. Jadi dia hanya membantu donor saja,” pungkasnya. (nif/syn)