Malang, Memox.co.id – Universitas Brawijaya Malang sebagai Perguruan Tinggi siap menurunkan 800 mahasiswa dan dosen untuk mendampingi masyarakat terkait stunting ke desa-desa melalui kegiatan KKN Tematik di Tahun 2022 di wilayah Jawa Timur, Rabu (05/10/2022).
Hingga saat ini permasalahan stunting (gagal tumbuh pada anak, Red) menjadi isu yang sedang digaungkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah. Kehadiran ratusan mahasiswa UB ke desa-desa sebagai salah satu upaya mengurangi berbagai masalah yang menyertai penuaan khususnya kepada anak-anak.
Dalam kegiatan dialog liputan khusus mengenai strategi percepatan penurunan stunting di wilayah Jawa Timur Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D, Sc mengatakan, masalah stunting, UB telah mempersiapkan dan mencari alternatif nutrisi dan pangan yang diharapkan dapat mengurangi berbagai masalah yang menyertai penuaan.
“Selain itu juga kami menerjunkan 800 mahasiswa dan dosen untuk pendampingan masyarakat terkait stunting, termasuk peran berbagai pihak seperti, BKKBN, Lembaga Penduduk dan Pembangunan Keluarga Nasional (LPPKN) hingga pemerintah menjadi satu yang penting disini,” ucapnya.
Hal senada juga disampaikan Kepala BKKBN Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) melihat stunting perlu dimulai sejak dini karena usia produktif yang baik bisa menunda potensi stunting.
“Saat terjadi aging population dibutuhkan Sumber Daya Manusia usia produktif yang berkualitas karena terjadinya dependensi rasio yang sangat tinggi. Dimana usia produktif harus menanggung biaya SDM yang tidak produktif yaitu lansia dan anak usia dibawah 14 tahun,” ungkapnya.
Perlu diketahui di sisi lain angka stunting di Malaysia juga cukup tinggi menurut Head Director of Lembaga Penduduk dan Pembangunan Keluarga Nasional (LPPKN). Disinilah tentu peran banyak pihak dan sektor termasuk pemerintah untuk meminimalisir stunting. Tentu dengan asupan gizi yang cukup, adanya kelas pra nikah, nikah hingga saat mempunyai anak nanti jelasnya. (fik/wdy/man)
