MEMOX.CO.ID – Sejumlah penjual bunga di kawasan Kepanjen, Kabupaten Malang tertawa lega. Sebab, ia meraup untung menyusul tingginya kunjungan ziarah menjelang bulan suci Ramadan 1446 Hijriah atau 2025 Masehi.
Dari pantauan wartawan Memo X di lapangan, tampak para pembeli silih berganti mendatangi stand penjualan bunga. Mereka membeli berbagai jenis bunga untuk ziarah ke makam keluarganya yang telah meninggal dunia. Mulai dari bunga tabur, buket, hingga bunga untuk dekorasi makam.
Salah satu penjual bunga Melinda Zuhro, mengaku, peningkatan penjualan hari ini mencapai 75 persen dari hari-hari biasanya. Jika hari biasa pembeli hanya 50 sampai 100 orang, saat ini tembus hingga 150 orang.
“Penjualan meningkat 75 persen dari hari biasanya,” katanya saat ditemui di stand penjualan bunga Jumat (28/2/2025) siang.
Bahkan, saking banyaknya pembeli, 400 tangkai bunga mawar yang ia bawa, diakui kurang dan harus mengambil kembali. Sehingga diperkirakan, hari ini akan tembus 600 bunga mawar yang akan laku terjual.
Lebih lanjut perempuan berusia 27 tahun itu menambahkan, harga penjualannya pun juga ikut naik. Jikalau hari biasa tiga tangkai bunga mawar dibandrol Rp2 ribu hingga Rp2,5 ribu, hari ini naik menjadi Rp10 ribu.
Namun walaupun terjadi kenaikan harga, penjualan bunga mawar menempati urutan nomor dua setelah bunga tabur. “Kalau bunga tabur ini kami jual Rp5 ribu perbungkus. Hari ini kami bawa 600 bungkus,” katanya.
Selain bunga tabur dan bunga mawar, yang banyak diminati pembeli adalah buket bunga. Cuma memang, ini menempati urutan ketiga lantaran, imbuh Zuhro yang juga aktif mengirim tulisan di Kompasiana, harganya mahal.
“Harganya yakni mulai Rp15 ribu hingga Rp 40 ribu,” jelasnya.
Karena memang menjelang bulan suci Ramadan, harga dari agen bunga juga alami kenaikan. Sehingga sebagai penjual bunga, akan menyesuaikan harga supaya dapat untung.
“Untung nya banyak. Misal modal Rp1 juta, saat ini bisa Rp2 juta lebih omset yang didapat,” katanya.
Tapi kepastian meraup untung berapa, ini masih belum diketahui. Sebab belum dilakukan kalkulasi dan juga hasil dari penjualan, akan diputar untuk kulakan bunga lagi.
“Hasil penjualan akan kami gunakan untuk kulakan lagi. Jadi tidak tiap hari untung juga,” pungkas perempuan asal Desa Sukoraharjo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. (nif/syn)
