PCNU Bondowoso Gelar Gebyar Ekonomi Santri, Dorong Kemandirian Ekonomi dan Pemberdayaan UMKM

PCNU Bondowoso Gelar Gebyar Ekonomi Santri, Dorong Kemandirian Ekonomi dan Pemberdayaan UMKM
Ketua PCNU Bondowoso, M Syaeful Bahar, di dampingi Ketua Panitia GES, Muhasim saat dikonfirmasi awak media di Paseban Alun - alun RBA Bondowoso, Rabu, 28 Oktober 2026. (foto:arif/memox)

MEMOX.CO.ID – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso melalui Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) menggelar Gebyar Ekonomi Santri (GES). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Santri sekaligus mendorong kemandirian ekonomi santri dan pemberdayaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Alun-Alun RBA Bondowoso, Rabu (28/10/2026).

Mengusung konsep acara bebas sampah, GES tidak hanya menjadi wadah promosi dan transaksi produk lokal, tetapi juga ruang kolaborasi antara santri, pelaku UMKM, organisasi masyarakat, dan pemerintah daerah dalam memperkuat perekonomian masyarakat Bondowoso.

Ketua PCNU Bondowoso, M. Syaeful Bahar, menyampaikan bahwa GES merupakan bagian dari upaya mengoptimalkan potensi ekonomi warga Nahdliyin. Menurutnya, NU memiliki kekuatan sosial yang besar dan perlu dikelola secara produktif agar mampu memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Ia menekankan bahwa kemandirian ekonomi merupakan salah satu aspek penting dalam membangun masyarakat yang kuat. Nilai-nilai keislaman, menurutnya, tidak hanya mendorong umat untuk memiliki kekuatan spiritual, tetapi juga kapasitas ekonomi dan keilmuan.

“Islam mengajarkan bahwa Allah mencintai umat yang kuat—bukan hanya kuat fisik, tetapi juga kuat secara ekonomi dan keilmuan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan gerakan pemberdayaan ekonomi ini dipelopori oleh LPNU Bondowoso sebagai bagian dari komitmen NU dalam memperkuat sektor usaha masyarakat. PCNU Bondowoso juga mendorong terjalinnya kolaborasi dengan pemerintah daerah agar pembinaan UMKM dapat dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari peningkatan kapasitas usaha hingga perluasan akses pemasaran.

Melalui penyelenggaraan Gebyar Ekonomi Santri, PCNU Bondowoso berharap potensi ekonomi santri dan warga Nahdliyin dapat berkembang lebih optimal. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi agenda tahunan yang mampu memperluas pemasaran produk lokal, meningkatkan daya saing UMKM, membuka peluang usaha, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat Bondowoso.

“Melalui Gebyar Ekonomi Santri, PCNU Bondowoso berharap UMKM warga Nahdliyin semakin berkembang, berdaya saing, dan mampu memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia GES, Muhasim, mengatakan kegiatan perdana tersebut direncanakan berlangsung selama enam hingga tujuh hari. Berbagai agenda disiapkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, mulai dari pameran produk UMKM, pelayanan publik, pelatihan ekonomi kreatif, edukasi pengelolaan sampah, hingga pertunjukan seni dan budaya.

“Poin utama yang kami angkat adalah menjadikan acara ini bebas sampah selama kegiatan berlangsung. Kami terus mengedukasi masyarakat dan pengunjung agar Bondowoso Berseri benar-benar tercipta,” ucapnya.

Ia menjelaskan berdasarkan data panitia, GES menghadirkan 130 stan yang terdiri atas 85 stan UMKM dan pedagang kaki lima (PKL), 11 stan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Bondowoso, serta 24 stan lembaga dan badan otonom Nahdlatul Ulama (NU).

Menurutnya, para pelaku UMKM yang terlibat berasal dari berbagai kelompok, di antaranya binaan NU, pesantren, lembaga swadaya, serta paguyuban UMKM lokal. Kehadiran stan-stan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pemasaran produk sekaligus membuka peluang usaha dan meningkatkan transaksi ekonomi masyarakat.

“GES menghadirkan stan UMKM, PKL, OPD, serta lembaga NU untuk memperluas pemasaran produk, membuka peluang usaha, dan meningkatkan transaksi ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Stan OPD Pemerintah Kabupaten Bondowoso menyediakan berbagai layanan langsung kepada masyarakat. Dengan demikian, GES tidak hanya berorientasi pada kegiatan ekonomi, tetapi juga menjadi sarana mendekatkan pelayanan publik kepada warga.

Untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha dan kesadaran lingkungan, panitia juga menggelar pelatihan ekonomi kreatif dan pengelolaan persampahan selama enam hari berturut-turut. Kegiatan tersebut diharapkan dapat membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi pengembangan usaha serta pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Ia juga menyebutkan semarak GES turut didukung panggung hiburan rakyat yang menampilkan seni dan budaya lokal. Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah pertunjukan tari kolosal Saman yang melibatkan 1.000 siswa-siswi At-Taqwa. Pertunjukan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya sekaligus memeriahkan peringatan Hari Santri.

Dalam mewujudkan konsep acara bebas sampah, panitia melibatkan tim SARKAS (Sarana Prasarana) Pemuda Pancasila/SARKAS Plus serta badan otonom NU. Edukasi kepada pengunjung terus dilakukan untuk membangun kesadaran bersama dalam menjaga kebersihan dan mengurangi timbulan sampah selama kegiatan berlangsung.

“GES dimeriahkan tari kolosal Saman oleh 1.000 siswa At-Taqwa serta mengedepankan konsep bebas sampah melalui edukasi kebersihan kepada pengunjung.” pungkasnya.

Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, penerapan konsep bebas sampah diharapkan dapat menjadi contoh bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan selaras dengan upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.(rif/syn)