Palagan Ambarawa, Ketika Jawara PD II Keok oleh Pejuang Republik Indonesia

71
0
Jendral Sudirman saat dilantik Presiden Sukarno. (dok. pusjarah)

Kini Diperingati Sebagai Hari Juang Kartika

Malang, Memox.co.id – Didasari peristiwa bersejarah dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang terjadi 75 tahun silam di Kota Ambarawa atau yang dikenal dengan sebutan Palagan Ambarawa. Tiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Juang Kartika.

Hari Juang Kartika menjadi momentum yang sangat penting, karena didalamnya mengandung nilai-nilai historis, yang merupakan jejak perjalanan pengabdian satuan TNI-AD kepada bangsa, negara dan tentunya kepada rakyat.

Peristiwa Palagan Ambarawa juga merupakan simbol kemanunggalan TNI-AD dengan rakyat Indonesia. Salah satu perlawanan sporadis yang menjadi lambang perjuangan nasional.

Palagan Ambarawa, Simbol Patriotisme Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

“Pada waktu itu semangat pemuda-pemudi Indonesia memang hebat sekali. Mereka akan marah dan merasa terhina ketika tidak berada di front. Apakah aku kurang keberanian? kalau tidak ke front,” tulis Ny A. Yani dalam buku Ahmad Yani Sebuah Kenang-kenangan.

Sekutu Mendarat di Semarang pada tanggal 20 Oktober 1945 dengan dipelopori Brigade Artileri dari Divisi India ke-23 dibawah pimpinan Brigadir Jendral Bethell.

Maksud dari kedatangan tentara Sekutu tersebut ialah mengurusi tawanan perang asal Belanda yang berada di penjara Ambarawa dan Magelang.

Akan tetapi kedatangan pasukan sekutu Inggris diboncengi oleh NICA (Nederlandsch Indie Civiele Administratie/Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Yang kemudian mempersenjatai bekas tawanan Belanda, hingga membuat situasi semakin memanas.

Insiden pun pecah, namun bisa direda setelah Presiden Soekarno dan Brigjen Bethell datang ke Magelang pada tanggal 2 November 1945. Dalam perundingan disepakati untuk diadakan perjanjian gencatan senjata.

Namun pada kenyataannya Sekutu mengabaikan perjanjian yang telah disepakati bersama, sehingga meletuslah pertempuran pada tanggal 20 Nopember 1945.

Pesawat Sekutu melakukan pemboman ke Ambarawa dengan maksud mengancam kedudukan TKR. Dengan tidak gentar pihak Republik melakukan pembalasan untuk mempertahankan wilayah dari Sekutu.

Mula-mula pasukan Republik yang terdiri dari TKR dan berbagai macam laskar rakyat bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi. Sehingga perlawanan mudah dipatahkan Inggris yang didukung persenjataan modern.

Untuk menghimpun kerjasama, didirikanlah Markas Pusat Pertempuran yang berkedudukan di Magelang. Dibawah pimpinan Kolonel Holan Iskandar.

Kolonel Sudirman yang saat itu sudah dipilih menjadi Panglima Besar dalam rapat di Yogyakarta pada, 12 Nopember 1945, melihat kurang adanya kemajuan dalam front Ambarawa. Ia lalu turun tangan dengan mengirimkan sebuah tim peninjau dibawah pimpinan Gatot Subroto.

Oleh Kastaf TKR, Kolonel Urip Sumohardjo ditetapkanlah Gatot Subroto sebagai komandan front. Dengan mengkomandoi pasukan Divisi V dan Divisi Yogyakarta, langsung diadakanlah sektor-sektor.

Dengan taktik Mangkara Yudha atau Supit Urang yang merupakan taktik berperang klasik leluhur Nusantara. Barisan pejuang TKR dibantu dengan laskar rakyat menggempur balik kedudukan tentara Inggris di Ambarawa.

Disebelah barat Rawa Pening dan sebelah barat jalan Ambarawa-Ungaran dipegang oleh Divisi Purwokerto dan Divisi Yogyakarta. Sebelah timur Rawa Pening diisi oleh Divisi Sutarto dan Jatikusumo.

Pasukan-pasukan tersebut tidak terus menerus menggempur Inggris di Ambarawa, tetapi secara bergantian. Begitu juga pasukan dari kelaskaran.

Banyak pejuang yang bertempur dengan gagah berani gugur dalam pertempuran ini. Termasuk Letkol Isdiman, Kapten Suyoto dan masih banyak lagi.

Akan tetapi pengorbanan itu tidaklah sia-sia. Segala jerih payah itu akhirnya berhasil memukul mundur pasukan Inggris dari Kota Ambarawa pada tanggal 15 Desember 1945.

Dengan sisa-sisa kekuatannya Inggris mundur ke Srondol dan Semarang. Setelah bertempur hebat di daerah Ungaran, Lapangan Terbang Kalibanteng yang menjadi basis udara Inggris-pun berhasil diduduki pasukan Republik.

Pertempuran Amabarawa ditutup dengan pengesahan Kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar TKR pada tanggal 18 Desember 1945. (*/fik)