Indeks

Pabrik Rokok Tulungagung Sumbang 157 Miliar Cukai Pajak Negara

MEMOX.CO.ID – Pabrik rokok yang berada di Tulungagung cukup menjanjikan dalam menyetor cukai pajak ke negara. Per tahun cukai pajak yang harus dikeluarkan 10 pabrik rokok yang ada di Tulungagung adalah sebesar 157 miliar.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau (APTI) Tulungagung yang juga sekaligus pemilik pabrik rokok di Desa Gesikan, Kecamatan Pakel, Tulungagung, Nur Hadi mengaku nilai cukai sangat besar. Tak jarang dikeluhkan beberapa perusahaan rokok menengah.

“Banyak menyumbang devisa Cukai pajak negara Tulungagung itu hampir 157 miliar. Budgetnya dari pusat 200 miliar, kita kurang, belum mampu,” akunya, Kamis (30/11/2023).

Ia mengaku persoalan yang sampai saat ini dialami oleh pabrik rokok menengah adalah beban biaya yang harus dikeluarkan. Mulai cukai yang akan naik, cengkeh ikut naik dari harga sebelumnya 75 ribu saat ini menembus 120 ribu per ilogram kering.

“Pun juga tembakau juga kenaikannya 40 persen membebani pabrikan rokok yang ada di Tulungagung, bahkan di seluruh Indonesia,” ulasnya.

Nur Hadi menambahkan Pabrik Rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) sangat bagus dalam menyerap tenaga kerja. Terbukti selama pandemi covid-19, tak ada pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Bahkan permintaan rokok mengalami kenaikan dan tenaga kerja kurang.

“Selama pandemi, rokok tidak ada masalah. Yang bermasalah memang kita dibatasi terkait dengan keberadaan tenaga kerja. Kita harus melembarkan tempat kita mengeluarkan coast lag. Tidak ada penurunan permintaan
tambah semakin bertambah permintaan,” ujarnya.

Tenaga kerja SKT di Tulungagung kurang kuantitas, sehingga pekerja sebagian mengambil tenaga eks dari Kediri yaitu keluaran buruh dari Pabrik Rokok Gudang Garam. Pabrik rokok di Tulungagung rela mengeluarkan biaya tambahan transportasi antar jemput setiap hari.

Pasalnya, pekerja di Tulungagung sendiri yang tersebar di 10 pabrik kesulitan mencari pekerja. Mulai Pabrik Rokok Mustika, PS Jeram hingga Age Pro harus mengambil tenaga dari Kediri.

“Yang muda-muda belajar tidak mau, larinya ke luar negeri. Jadi SKT ini pekerjaan ini sangat menjanjikan, jadi kalau mau dihapus (melalui RP Kesehatan) itu kita sangat menentang habis-habisan,” tegasnya. (jaz/and/fik)

Exit mobile version