Malang, MEMOX.CO.ID – Musim hujan saat ini, sebagian orang ada yang merasakan manfaatnya, dan sebagian yang lain merasakan dampaknya. Salah satu masyarakat yang merasakan dampak dari musim hujan adalah pengusaha kerupuk singkong di Desa Sumbersekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Bagaimana tidak, olahan kerupuk yang diproduksi memerlukan 7 jam sinar matahari, karena anomali cuaca ini, produksinya cenderung menurun.
Pemilik kerupuk singkong barokah Priyanto kepada wartawan harian pagi Memo X saat ditemui di kediamannya belum lama ini menuturkan, jika dalam satu hari biasanya menghasilkan 450 kilogram kerupuk singkong, namun saat cuaca buruk, itu butuh waktu dua sampai tiga hari.
“Kan kerupuk singkong itu dijemur. Proses penjemuran itu memerlukan waktu 7 jam. Kalau cuaca buruk bisa dua hari baru kering,” jelas pemilik kerupuk singkong barokah ini.
Namun walaupun begitu, pria 56 tahun ini menyebut, cuaca tak menjadi penghalang untuk tetap berproduksi. Setiap hari dirinya selalu memproduksi 300 kilogram singkong yang dicampur dengan 50 kilogram tepung tapioka.
Dari jumlah itu, kerupuk yang dihasilkan, perhari rata-rata bisa mencapai 450 kilogram kerupuk singkong. Dan kerupuk tersebut diproduksi menjadi dua varian rasa. Yakni rasa original dan balado.
Rasa original misalnya, kerupuk tersebut dijual Rp80 ribu per kemasan berukuran 5 kilogram. Sedangkan untuk rasa balado, ia membandrol Rp115 ribu per kemasan berukuran 5 kilogram.
Sehingga jika dikalkulasi kotor, penghasilan yang didapat Priyanto, kurang lebih Rp7,2 juta per hari. Karena, dari 450 kilogram kerupuk singkong itu, jika dibungkus maka menjadi kurang lebih 90 kemasan. Sedangkan per kemasan ukuran 5 kilogram, dijual Rp80 ribu.
“Untuk pemesanannya kami pasarkan di empat kota. Yakni Mojokerto, Mojosari, Sidoarjo, dan Bali,” pungkasnya. (nif).
