MEMILIH itu Juara, demikian kata-kata yang sering saya dengan di radio dan media lainnya. Itulah bandingan antara tidak memilih dengan memilih, yang artinya lebih baik memilih alias tidak masuk golput (golongan putih). Meskipun golput itu masuk dalam kebebasan dalam berpendapat atau memilih. Membandingkan Pemilu di Indonesia dengan suatu referendum tingkat kota Roma memang aneh. Akan tetapi, saya berpendapat, apa yang terjadi pada referendum kecil di kota Roma dapat menjadi contoh nyata betapa sikap golput dapat melumpuhkan keputusan politik yang penting bagi publik. Tahun 2018 kota Roma mengadakan referendum tentang transportasi publik. Apakah tetap menggunakan perusahaan yang pelayanannya tidak baik atau tidak. Referendum itu gagal mencapai kuorum 33 persen dari pemegang hak pilih. Hanya 16,4 persen pemegang hak pilih yang “mencoblos”. Akhirnya, Roma gagal menentukan pilihan. Harus diadakan lagi proses politik yang mahal untuk mencapai keputusan yang berdampak besar bagi kesejahteraan masyarakat. Meski beda “skala”, contoh di atas menunjukkan, semakin rendah partisipasi pemilih, semakin turun kredibilitas dan mutu suatu proses demokrasi (baca: Pemilu). Apalagi, Pemilu kita jadi pusat perhatian dunia. Kredibilitas pemimpin negara dan legislatif bisa dipertanyakan bila nantinya partisipasi publik rendah. Karena itu, saya menganjurkan agar golput menjadi pilihan terakhir. Secara sederhana, “minus malum” adalah prinsip moral di mana dalam dilema ketika harus memilih di antara dua atau lebih pilihan yang secara inheren mengandung keburukan, kita harus memilih pilihan yang paling sedikit mengandung keburukan. (*)
Memilih Itu Juara
Baca Juga
Rekomendasi untuk kamu

MEMOX.CO.ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Kantor Cabang Kepanjen terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung peningkatan kualitas kesehatan…




