Mahasiswa UMM Buka Kelas Ibu Hamil, Cegah Stunting dan Baby Blues Syndrome Sejak Dini

Mahasiswa UMM Buka Kelas Ibu Hamil, Cegah Stunting dan Baby Blues Syndrome Sejak Dini
KELAS IBU HAMIL: Mahasiswa UMM Kel 8 Gel 3 membuka Kelas Ibu hamil cara mencegah stunting dan Baby Blues Syndrome sejak dini. (foto:ist)

#Kegiatan PMM Kelompok 8 Gel 3 di Desa Ngadirejo Kab Malang

MEMOX.CO.ID – Mahasiswa Program Pengabdian Masyarakat (PMM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan kegiatan penyuluhan untuk Kelas Ibu Hamil, terutama terkait bagaimana cara meminimalisir terjadinya baby blues syndrome dan stunting sejak dini.

Kegiatan Kelompok 8 Gelombang 3 PMM UMM itu berlangsung di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, pada 19 Januari 2024 sampai 19 Februari 2024.

Kegiatan ini merupakan suatu agenda yang wajib dilakukan bagi semua mahasiswa yang sedang aktif dan salah satu  bentuk kontribusi mahasiswa kepada masyarakat untuk mengaplikasikan hilirisasi hasil penelitian UMM.

Mahasiswa UMM Buka Kelas Ibu Hamil, Cegah Stunting dan Baby Blues Syndrome Sejak Dini
PENYULUHAN: Mahasiswa PMM UMM saat melaksanakan kegiatan penyuluhan di Kelas Ibu Hamil. (foto:ist)

Adapun sasaran penyuluhan adalah para ibu hamil. Penyuluhan juga ikut didampingi oleh Bu Bidan Desa Ngadirejo. Kegiatan dipandu oleh Basita Dewi Aisya selaku perwakilan kelompok 8 gelombang 3 PMM dan berlangsung dengan lancar.

Dalam kegiatan penyuluhan ini, materi disampaikan secara langsung tatap muka melalui lisan. Antusiasme tampak pada sesi tanya jawab, dimana beberapa pertanyaan diajukan oleh para ibu hamil.

Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan ini diharapkan ibu hamil yang hadir dapat mengetahui dan memahami dan melakukan pencegahan terjadinya Baby blues syndrome sejak dini.

Perlu diketahui Baby blues syndrome adalah gangguan kesehatan mental yang dialami wanita pasca melahirkan. Gangguan ini ditandai dengan munculnya perubahan suasana hati, seperti gundah dan sedih secara berlebihan. Umumnya, gejala baby blues syndrome dapat memburuk pada hari ke 3-4 setelah melahirkan dan berlangsung selama 14 hari.

Selama kegiatan, mahasiswa UMM menyampaikan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mencegah timbulnya baby blues syndrome. Sebab merawat bayi merupakan tugas yang memerlukan banyak perhatian dan dukungan.

Untuk itu, penting untuk meminta bantuan dari orang-orang terdekat seperti kerabat atau teman. Selain itu, dalam minggu-minggu dan bulan-bulan pertama setelah melahirkan, sangat dianjurkan untuk memperbanyak istirahat guna mencegah depresi dan memulihkan kembali tenaga.

Konsumsi makanan bernutrisi juga menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan tubuh, menjaga kesehatan, dan meningkatkan energi. Dukungan dari suami atau orang terdekat lainnya juga sangat penting dalam mengurangi risiko depresi pasca melahirkan.

Selain itu, persiapan secara fisik, mental, dan materil juga perlu dilakukan agar ibu siap dengan kehadiran buah hati.  Mencari informasi mengenai proses persalinan juga akan membantu persiapan ibu.

Menjaga pikiran tetap positif terhadap segala sesuatu, terutama mengenai proses persalinan dan kehadiran calon bayi, juga sangat diperlukan.

Berbagi tanggung jawab dalam merawat dan mengasuh bayi dengan suami merupakan hal yang baik. Tidak kalah penting, ibu juga harus meluangkan waktu untuk “me time” untuk bertemu teman atau melakukan kegiatan yang disukai, serta melakukan relaksasi atau meditasi agar pikiran menjadi lebih tenang dan terjaga keseimbangannya

“Kegiatan penyuluhan kami tutup dengan memberikan take home message untuk mendukung kesehatan mental ibu. Menjadi ibu yang sehat dan bahagia adalah kunci untuk terus menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga,” ujar salah satu mahasiswi peserta PMM, Kamis (28/03/2024).

Bersamaan dengan hal tersebut, juga diberikan asupan telur dalam mangkuk untuk dapat dikonsumsi sebagai penambah protein untuk ibu hamil. Dengan kegiatan ini, para mahasiswa PMM berharap, bahwa para ibu-ibu menyadari bahwa lingkungan yang sehat itu ada dan siap mendukung kesuksesan ibu untuk tetap sehat secara jasmani maupun rohani. (*)