Mahasiswa UB Tolak Wajib Berstiker

Kota Malang, Memo X

 Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya (Amarah Brawijaya) yang terdiri atas belasan BEM fakultas di Universitas Brawijaya (UB) menggelar unjukrasa di depan gedung Rektorat UB, Senin (1/3/2019) siang. Mereka menuntut dicabutnya aturan masuk UB wajib stiker.

Dikutib dari Malang Times, aturan masuk UB wajib stiker sendiri telah berlangsung sekitar 2 bulan. Dengan adanya aturan ini, selama ini masyarakat umum dan ojek online (ojol) tidak bisa masuk ke dalam kawasan UB. Kendaraan dosen, karyawan, dan mahasiswa bisa masuk dengan memakai stiker atau KTM.

Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Rektor Nomor : 0862/UN10/PS/2019 tentang Pemberlakuan Stiker Kendaraan Masuk. Hanya kendaraan yang berstiker UB yang bisa memasuki area kampus.  Sementara untuk mobilitas warga kampus, UB menyediakan beberapa minibus yang siaga di masing-masing posnya.

Koordinator lapangan Amarah UB,  Zafir Galang (F Hukum)  menyatakan, Amarah meminta 3 tuntutan dari rektorat. Pertama, tolak kebijakan stiker UB. “Karena kebijakan ini tidak efektif. Bahkan kebijakan ini hanya kurang dari dua minggu. Setelah 2 minggu tidak ada pengecekan stiker,” ujarnya.

Bahkan, dikatakan Zafir bahwa kini bermunculan stiker-stiker palsu yang dijual di luar kampus. Tuntutan kedua yakni alih fungsi bis UB. Bis yang digunakan sebagai mobilitas warga kampus sebagai pengganti penumpang ojol.

Namun, bus UB dirasakan tidak mampu mengakomodir kepentingan mahasiswa. “Tetapi dalam pelaksanaannya, bus UB ini tidak efektif sama sekali. Bahkan bus yg disiapkan itu tidak bisa mengakomodir kepentingan mahasiswa,” tandasnya.

Jam operasional bus UB sendiri hanya sampai pukul 3 sore. Sementara dikatakan Zafir bahwa mahasiswa di kampus lebih dari jam 3 sore. “Yang riskan adalah ketika para mahasiswi itu pulang kampus malam hari, riskan terjadi pelecehan seks. Ditambah sarana prasarana UB itu masih banyak daerah-daerah yang lampunya tidak terang dan sebagainya. Di UB sudah mulai banyak kasus-kasus pelecehan seks dari orang-orang yang tidak dikenal,” papar Zafir lebih lanjut.

Di sini Zafir menegaskan, ojek online lebih efektif daripada bus yang disediakan UB. Sebab ojek online menjemput dari tempat tinggal mahasiswa langsung menuju fakultas, begitupun sebaliknya. Tuntutan ketiga, yakni diperbolehkan lagi ojek online masuk di kampus UB.

“Kebijakan stiker sudah pernah dilakukan tahun 2016 dan terbukti gagal. Kenapa terus diulang-ulang?” pungkas  Zafir. (*/man)