MEMOX.CO.ID – Siapa bilang layang-layang hanya untuk anak-anak? Di Malang Raya, permainan tradisional ini justru menjadi primadona hiburan semua usia.
Setiap sore, lapangan-lapangan di Kota Apel dipenuhi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang asyik menerbangkan layangan ke angkasa.
Menariknya, fenomena ini bukan sekadar nostalgia masa kecil. Layang-layang kini menjelma sebagai hiburan murah meriah yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya para pengrajin UMKM lokal.
Suasana semakin meriah ketika para pemain mulai mengadu layang-layang mereka. Di sinilah strategi, keahlian, dan kecepatan reaksi diuji untuk menjatuhkan layangan lawan.
Namun, momen yang paling ditunggu justru saat layangan putus. Bukan karena kecewa, justru menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pemburu layangan putus yang sudah siap berebut di bawah.
Saipul Doble Koclok atau biasa disebut Cak ipul penggiat layang-layang sambetan asli Malang, mengaku kecintaannya pada permainan ini sudah ada sejak kecil. Ia kembali aktif setelah melihat tren layang-layang mulai naik lagi (tahun 2000’an)
“Awalnya cuma nostalgia. Eh, ternyata seru banget. Apalagi pas liburan begini, ramai sekali,” ujarnya sambil tersenyum.
Yang menarik, di Malang sendiri tercatat ada sekitar 50 klub layang-layang yang tersebar di berbagai wilayah. Komunitas-komunitas ini menjadi wadah silaturahmi, saling tukar pendapat, hingga belajar bersama merakit layangan.
Bermain layang-layang ternyata punya segudang manfaat. Mulai dari menyatukan keluarga lintas generasi, mengurangi ketergantungan gadget, hingga melatih motorik dan koordinasi tubuh.
Ditambah lagi, aktivitas di luar ruangan ini membantu tubuh menyerap Vitamin D dan menyehatkan mata karena terbiasa melihat pemandangan jarak jauh.
“Silaturahmi itu penting. Kita bisa saling bertukar pendapat dan menjalin kekerabatan,” tambah Saipul.
Tak hanya sekadar hobi mingguan, layang-layang sambetan di Malang sudah memiliki berbagai acara dan kompetisi rutin. Bahkan, perlombaannya sudah mencapai tingkat nasional dengan peserta dari mancanegara.
Saipul bersama rekan-rekan pegiat berharap, semakin banyak masyarakat yang tertarik bergabung. Apalagi, Malang Raya punya peran besar di kancah layang-layang Indonesia.
“Harapannya, permainan ini terus lestari. Selain edukatif bagi anak-anak, juga mampu memajukan UMKM para pengrajin layang-layang di Malang,” pungkasnya, Rabu (15/07/26)
Layang-layang bukan sekadar benang dan kertas yang diterbangkan. Ia adalah jembatan antara generasi, pelepas penat, dan penggerak ekonomi kecil yang nyata. (tim/oso)






