Indeks
Opini  

Keegoisan Rezim Teokratis Adalah ‘Koentji’

Britannica.com

Dilansir dari VOA (24/5/2023), ada dua orang wartawan Iran yang ditahan, yaitu wartawan yang membantu mengungkap kasus Mahsa Amini. Keduanya telah diadili pada Mei 2023 lalu, menurut pihak kepolisian Iran.

Hamedi, wartawan surat kabar Sharq, adalah yang pertama memberitakan kematian Mahsa Amini di dalam tahanan polisi moral. Hamedi ditangkap pasukan aparat Iran beberapa hari setelah kematian Amini diungkapkan. Elaheh Mohammadi, dari surat kabar Ham Mihan, menerbitkan laporan tentang pemakaman Amini.

Pemerintah Iran seolah memberikan pertanyaan tuduhan kepada kedua Hamedi dan Elaheh, mereka mengatakan bahwa kedua wartawan berkolaborasi dengan Amerika Serikat yang kemudian membawa keduanya kepada dakwaan atas tuduhan kolaborasi tersebut karena dianggap bertindak melawan keamanan nasional dan menciptakan ‘propaganda melawan sistem’.

 Kementrian Intelijen Iran dan badan intelijen Garda Revolusi mengeluarkan pernyataan Bersama yang menuduh Hamedi dan Mohammadi “menyebarkan berita bias”.

HUKUM HIJAB YANG ‘DILANGGAR’?

Protes massal yang berlangsung selama berbulan-bulan setelah kematian Mahsa Amini mungkin kini mereda, namun kemarahan yang menyulut protes belum padam hingga saat ini.

Perempuan Iran harus menemukan cara baru untuk menentang rezim. Seorang diplomat Barat di Teheran memperkirakan bahwa di seluruh negeri, rata-rata sekitar 20% Perempuan Iran kini melanggar hukum Republik Islam dengan turun ke jalan tanpa mengenakan hijab.

Middleeasteye.net

Mengutip BBC, seorang mahasiswi musik berusia 20 tahun di Teheran yang dipanggil Donya, mengatakan bahwa banyak hal yang berubah sejak kasus Mahsa Amini terjadi. Dia adalah segelintir dari sekian banyak Perempuan Iran yang saat ini dengan berani menolak mengenakan hijab di depan umum. “Saya masih tidak percaya dengan hal-hal yang kini saya berani lakukan. Kami menjadi jauh lebih kuat dan berani. Meskipun saya sesekali merasa takut tiap melewati polisi moral, saya tetap menegakkan kepala dan berpura-pura tidak melihat mereka”, terangnya.

Para Perempuan di Iran yang kini sudah memiliki keberanian lebih untuk menentang aturan hijab tetap sadar bahwa risiko yang bisa mereka dapatkan tetap tinggi. Meskipun sudah lebih bebas dari sebelum kasus Amini, mereka tetap berhati-hati untuk tidak mengenakan celana pendek dan tetap waspada membawa hijab di tas.

Diplomat Barat di Teheran menggambarkan protes yang dipicu oleh kematian Amini merupakan sebuah ‘titik balik’ yang besar dan berdampak pada rezim Iran, yang telah mengendalikan cara Perempuan Iran berpakaian dan berperilaku selama lebih dari empat dekade lamanya.

Pemberontakan yang dipimpin oleh Perempuan ini merupakan tantangan paling serius yang harus dialami rezim teokratis Iran sejak revolusi tahun 1979.

Exit mobile version