Indeks
Hukum  

Kapolres Malang: Pentingnya Kedewasaan Masyarakat Dalam Berpolitik

DIALOG: Kapolres Malang AKBP Kholis saat menjadi narasumber dalam giat Dialog Interaktif.

Dialog Interaktif Bersama Kapolres Malang, Siap Amankan Pemilu 2024

MEMOX.CO.ID – Kapolres Malang AKBP Putu Kholis Aryana menjadi pembicara dalam dialog interaktif ‘Idjen Talk’ yang diselenggarakan secara daring oleh Radio City Guide 911 FM, di Malang, Selasa (7/11/2023).

Sebagai narasumber dirinya menekankan pentingnya menjaga netralitas Polri dalam pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Didampingi perwakilan akademisi dan pegiat komunitas.

“Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi salah satu potensi kerawanan yang patut diperhatikan dalam penyelenggaraan pengamanan pesta demokrasi. Seperti yang tertera dalam
tema “Membaca Kerawanan Pemilu Jelang 2024”,” ujarnya.

Kapolres AKBP Putu juga memfokuskan perhatiannya pada berbagai masalah yang bisa mengganggu proses demokrasi, seperti politik identitas, isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), money politics, dan berita hoaks.

“Untuk mengatasi potensi kerawanan dan gangguan yang mungkin terjadi selama tahapan Pemilu 2024, pihaknya telah membentuk satuan tugas yang siap bertindak dalam Operasi Mantab Brata Semeru 2023-2024,” jelasnya.

“Kami melihat beberapa kerawanan, namun tentunya ini bukan untuk khawatirkan publik. Tetapi bagaimana kami aparatur keamanan negara mempersiapkan diri untuk memastikan Pemilu ini setiap tahapannya bisa berjalan aman dan lancar,” kata AKBP Putu.

Dirinya menegaskan, tentunya kami tidak bekerja sendiri, kami juga dibantu unsur TNI, pemerintah daerah, dan yang paling penting adalah yang paling membantu kami yaitu kedewasaan masyarakat dalam berpolitik dan berdemokrasi,” ungkap Kapolres.

Sementara itu, Dosen Sosilogi Politik Universitas Muhammadiyah malang (UMM),Prof. Dr. Wahyudi Winarjo M.Si, mengatakan tahapan kerawanan Pemilu dapat dibagi menjadi tiga fase. Tahapan tersebut diantaranya fase persiapan, fase pelaksanaan, dan fase paska pelaksanaan Pilihan Legislatif dan Pilihan Presiden.

Wahyudi menambahkan, pada fase persiapan, kerawanan yang muncul seperti pertanyaan publik yang tidak bisa dijawab secara jelas melalui media, para pihak yang tadinya bersatu kemudian sekarang berbeda jalan.

“Serta kerawanan tentang ketidak netralan pemerintah maupun pejabat yang ditengarai rakyat mulai terjadi,” kata Winarjo.

Dalam kesempatan yang sama, Mira Daniswara, Plt Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Korwil Malang, mencatat terdapat 226 hoax yang menyerang dua kubu pasangan Capres dan Cawapres dalam penyelenggaraan Pemilu 2019. Selain itu, hoax juga menyerang penyelenggara pemilu, KPU maupun Bawaslu.

“Misalnya hoax tentang isi kontainer berisi surat suara yang dicoblos, hoax menyerang penyelenggara Pemilu sehingga kredibilitasnya turun,” kata Mira. (*)

Exit mobile version