Indeks

Ini Pengakuan Atlet Binaraga Kabupaten Malang Yang Sudah 7 Kali Terpaksa Makan Ayam Tiren

Ini Pengakuan Atlet Binaraga Kabupaten Malang Yang Sudah 7 Kali Terpaksa Makan Ayam Tiren
Atlet Binaraga Kabupaten Malang. (MemoX pbfikab.malang)

MEMOX.CO.ID – Ini menjadi pukulan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Pasalnya, gara-gara keterlambatan pencairan, atlet Binaraga Kabupaten Malang, terpaksa memakan ayam tiren untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Ayam tiren adalah istilah untuk bangkai ayam atau ayam yang sudah tidak layak dikonsumsi. Dari pengakuan salah satu atlet Salsa Hafidz Firmansyah mengatakan, ini karena terpaksa.

“Karena kalau kita tidak mencukupi kebutuhan protein, tubuh kita tidak berkembang,” jelasnya saat dikonfirmasi via telepon belum lama ini.

Sedangkan atlet Binaraga adalah, bukan soal adu kekuatan di arena pertandingan, melainkan kontes memamerkan bentuk fisik tubuh yang kekar. Jika kebutuhan protein tidak terpenuhi, otot-otot itu tidak berkembang alias layu.

Apalagi target yang ditetapkan Pemkab Malang di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur (Jatim) 2025, yang akan diselenggarakan 28 Juni – 8 Juli 2025 mendatang, ditargetkan meraih tiga besar. Sedangkan anggaran biaya untuk pemusatan latihan (Puslat) tak kunjung cair.

“Kita memakan ayam tiren karena dana dari Pemkab Malang belum cair akhirnya memutuskan membeli ayam tiren untuk kebutuhan protein,” terang Salsa Hafid Firmansyah yang sebelumnya pernah meraih juara 1 di Porprov 2023 lalu.

Salsa sapaan akrabnya Salsa Hafid Firmansyah asal Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang ini mengaku, sudah tujuh kali memakan ayam tiren. Karena sehari, dirinya mengaku harus mengkonsumsi daging ayam sekitar 1,5 kilogram sampai 2 kilogram.

“Dengan tinggi badan 180 sentimeter dan berat badan 88 kilogram, perhari mengkonsumsi 1,5 – 2 kilogram,” kata pria 22 tahun.

Sementara itu, Ketua Persatuan Binaraga dan Fitnes Indonesia (PBFI) Kabupaten Malang, Indra Khusnul, mengatakan, atlet Binaraga memang harus memerlukan gizi yang cukup.

“Kebutuhan gizi yang kelas 60 kilogram ke bawah saja minimal 1 kilogram perhari untuk kebutuhan protein-nya. Ini belum termasuk makanan karbohidrat, serat pangan, maupun multi vitamin dan suplementasi,” jelasnya.

Suplementasi saja, satu orang rata-rata kurang lebih Rp2-3 juta per bulan. Sedangkan mayoritas atlet Binaraga ini, diakui rata-rata pelajar mahasiswa. Maka langkah memakan ayam tiren kala itu, diakui lantaran terpaksa. Hal itu demi atlet Binaraga yang akan mewakili Kabupaten Malang di Porprov Jatim, bisa menyandang gelar juara lagi.

“Memang secara kesehatan maupun agama tidak dianjurkan tapi ini tidak ada solusi untuk cabor kita,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, kenapa tidak diganti menggunakan ikan?, Indra Khusnul menjawab, sudah disurvei harga ikan perkilo juga mahal. Sedangkan pemenuhan gizi harus terjaga setiap harinya.

Misalnya diganti telur dengan harga perkilo Rp23 ribu, lanjut Indra, jumlah protein-nya dikatakan tidak seberapa. Sehingga masyarakat hanya bisa berpendapat terkait hal ini. Namun tidak bisa memberikan solusi.

“Atlet kita yang akan mewakili Porprov sebanyak 12 atlet. Kita optimis bisa juara umum lagi seperti tahun-tahun sebelumnya,” pungkasnya. (nif/syn)

Exit mobile version