Hampir 2 Tahun Absen Dampak Covid-19, Kembali Kota Malang Gelar Ludruk Tcap Djempol

LUDRUK: Dalam pertunjukan ludruk tersebut menceritakan kehidupan sehari-hari seorang buruh bernama Wito

Malang, Memox.co.id – Pemerintah Provinsi Jawa Timur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang mengadakan pagelaran ludruk yang dibawakan oleh Ludruk Tcap Djempol Kota Malang. Pagelaran ini berlangsung di Taman Krida Budaya Jl. Soekarno Hatta No.7 Kota Malang, Kamis (24/11/2022).

Pagelaran ini diadakan dengan tujuan sebagai sarana hiburan setelah hampir 2 tahun tertunda terdampak  pandemi Covid-19. Ludruk Tcap Djempol membawakan cerita berjudul “Lamaran” yang disutradarai sekaligus ide cerita oleh seniman ludruk asli Kota Malang yaitu Suwito Heri Sasmito atau yang sering dikenal dengan Cak Wito.

Pagelaran ludruk yang diketuai oleh bapak Suwito Herry Sasmito dan asisten sutradara bapak Totok S. Pada ludruk ini memiliki beberapa pemeran seperti Supiyah sebagai Istri, Wito H, S. sebagai Buruh, Wiwik sebagai Istri Wito, Cellin sebagai Anak, Sindhu sebagai Dosen, Arsad sebagai Anak, Rama sebagai Sopir.

Dalam pertunjukan ludruk tersebut menceritakan kehidupan sehari seorang buruh bernama Wito. Cak Wito memiliki anak bernama Cellin. Pada suatu hari Cellin mendatangi Cak Wito bersama dengan kekasihnya yang bernama Arsad. Kedatangan Arsad bermaksud untuk melamar Cellin.

Dari pantauan dilokasi pertunjukan, panggung yang disediakan sangat memadai karena tempatnya yang luas muat untuk gamelan dan juga pertunjukan ludruk. Lighting yang digunakan juga sesuai dengan alur pertunjukan.

Pemeran juga menggunakan properti seadanya namun pemeran mampu menggunakannya dengan maksimal. Namun, ada beberapa properti yang kurang disiapkan oleh panitia seperti meja, sehingga pemeran perlu melakukan improve untuk mengisi waktu tersebut.

Namun, terdapat beberapa kekurangan yang membuat pertunjukan tersebut kurang dinikmati. Yaitu, kurangnya kursi untuk penonton, sehingga tidak sedikit penonton yang melihat dengan berdiri.

Penataan kursi juga yang kurang rapi sehingga terdapat beberapa sudut pandang yang kurang terlihat karena tertutup oleh pilar dan sound system. Jika panitia lebih siap dalam menyiapkan fasilitas, mungkin pertunjukan ini menjadi lebih bisa dinikmati oleh penonton.

Setiap kekurangan dan kelebihan tersebut dapat dijadikan evaluasi oleh para pengurus pagelaran. Namun, hal tersebut sangat normal terjadi di acara pertunjukan karena pada dasarnya setiap pertunjukan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. (afif)