Perlu diketahui ide atau gagasan tersebut diambil karena melihat pontensi yang ada di Desa Pujon Kidul. Dimana wilayah Desa Pujon Kidul secara umum sangat cocok untuk lahan pertanian dan perkebunan karena ciri geologis berupa lahan hitam yang tergolong tanah subur.
Sebagai catatan sebutan Batik Ecoprint berasal dari kata eco atau ekosistem yang berarti lingkungan hayati atau alam, sedangkan print artinya cetak. Istilah ecoprinting adalah teknik cetak dengan pewarnaan kain alami daun, bunga, batang atau bagian tubuh lain yang mengandung pigmen warna dengan media kain.
Sangat tepat sekali dengan kondisi geologis Desa Pujon Kidul terpetakan yaitu 56 Ha sangat subur, 140 Ha sangat subur, 1.109 Ha sedang, dan 233 Ha tidak subur atau kritis. Kondisi ini sangat cocok untuk menanam padi dan panen yang dihasilkan yaitu 8,5 ton/ha.
Tanaman jenis palawija pun cocok jika ditanam di sini. Berdasarkan data dari Desa Pujon Kidul beberapa tananaman yang cocok yaitu jagung, apel, tomat, dan wortel. Oleh karena itu, batik ecoprint sangat cocok untuk diusung sebagai salah satu pengembangan batik khas desa Tulungrejo.
Motif yang dihasilkan oleh sistem ecoprint ini nampak lebih kontemporer dibandingkan batik yang digambar ataupun dicetak dengan motif batik yang klasik. Batik ecoprint adalah batik yang dibuat dari bahan-bahan organik langsung dari alam, mulai dari kain, motif hingga pewarnaannya,” ujar Luqman Dzul Hilmi sebagai Dosen Pembimbing Lapang. (*)
